Jumat, 18 Desember 2015

Take Home Final Exam

EKONOMI MANAJERIAL LANJUT

Dosen:  Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec


Structure Conduct Performance Analysis
INDUSTRI MINYAK PELUMAS DI INDONESIA


Oleh:
Eko Subowo
NIM. P. 066140603.10DM

logo-IPB (1)


Description: D:\Logo-Logo\MB-IPB (Indonesia) copy.png 




PROGRAM DOKTOR MANAJEMEN DAN BISNIS
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
30 September 2015



STRUCTURE CONDUCT PERFORMANCE ANALYSIS
INDUSTRI MINYAK PELUMAS DI INDONESIA
Oleh : Eko Subowo
1.        PENDAHULUAN
a.        Regulasi
Sampai dengan era tahun 1990-an, pasar pelumas di Indonesia merupakan pasar monopoli yang dikuasi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT. Pertamina. Peraturan yang mendasari tata niga minyak pelumas pada saat itu adalah Keppres Nomor 18 Tahun 1988 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas serta Penanganan Oli Bekas. Berdasarkan Keppres tersebut PT. Pertamina diberikan hak monopoli dalam perdagangan pelumas dalam negeri, sementara pihak swasta yang ingin membuka usaha di industri minyak pelumas diharuskan bekerjasama dengan PT. Pertamina  dan hanya diberikan kesempatan dalam bisnis pelumas sintetis. Pada masa itu, PT Pertamina yang merupakan BUMN tersebut mengusai hampir 90% pangsa pasar pelumas di Indonesia (Republika online, 2015).
Pasar monopoli tersebut berlangsung hampir 15 tahun lamanya, hingga pada tanggal  5 Maret 2000 pemerintah mulai memberlakukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Menindaklanjuti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tersebut, Pemerintah kemudian menerbitkan Keppres Nomor 21 Tahun 2001 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas untuk menggantikan Keppres Nomor 18 Tahun 1988. Kebijakan yang tertuang di dalam Keppres Nomor 21 Tahun 2001  pada prinsipnya mengatur ulang (deregulasi) perdagangan pelumas yang semula bersifat monopolistis oleh PT. Pertamina  menjadi terbuka dalam arti tidak monopolistis lagi.
Semenjak pemerintah menghilangkan hambatan yang disebabkan monopoli Pertamina,  pasar pelumas nasional menjadi pasar yang terbuka bagi setiap pelaku usaha, baik bagi pelaku usaha domestik maupun asing. Ketika itu banyak pengusaha pelumas asing yang masuk ke pasar pelumas Indonesia bertindak  baik sebagai pedagang dan distributor, ataupun sebagai produsen yang membuat pabrik pelumas sendiri dengan lisensi asing (misalnya PT Wiraswasta Gemilang Indonesia dengan lisensi Penzoil). Akibatnya penguasaan Pertamina terhadap pangsa pasar pelumas nasional tergerus. Ketika itu banyak pihak memperkirakan pangsa pasar pelumas Pertamina akan merosot sangat tajam akibat persaingan bebas dari dalam maupun luar negeri.  Namun demikian, perkiraan tersebut tidak terbukti karena kenyataanya pangsa pasar minyak pelumas nasional terendah Pertamina masih berada pada angka 53% pada tahun 2003 (Case Center Dept. Management FE-UI, 2000) . Hal ini diduga penyebabnya adalah kuatnya brand image dan penguasaan bahan baku pelumas yang dimiliki oleh PT. Pertamina selaku produsen minyak dan gas di dalam negeri.

b.        Pemahaman Umum Minyak Pelumas (Lubricants Oil)
Minyak pelumas (lubricant oil) atau yang lebih populer disebut oli, dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang berada atau di sisipan di antara dua permukaan yang bergerak secara relatif agar dapat mengurangi gesekan antar permukaan tersebut. Oli adalah penopang utama dari kerja sebuah mesin. Bukan itu saja, bahkan oli juga menentukan performa dan daya tahan mesin. Semakin baik kualitas oli yang digunakan, semakin baik pula performa dan daya tahan mesin. Fungsi oli bukan hanya sebagai pelumas saja, melainkan juga sebagai pendingin dan pembersih mesin. Sebagai pelumas, oli melumasi (lubricating) seluruh komponen yang bergerak di dalam mesin untuk mencegah terjadinya kontak langsung antar-komponen yang terbuat dari logam. Dalam hal ini, unsur kekentalan (viskositas) sangat penting (Kusumah, 2013).
Ada dua jenis minyak pelumas, yakni mineral dan sintetis. Pelumas mineral adalah campuran antara minyak bumi yang ditambah zat aditif. Pelumas mineral baik digunakan untuk mesin-mesin diesel otomotif, kapal, dan industri. Sedangkan yang sintetis adalah minyak bumi yang melalui proses kimiawi diubah menjadi bahan sintetis. Bahan sintetis daya tahannya terhadap panas lebih tinggi sehingga oli tidak mudah rusak dan tahan lebih lama terhadap oksidasi. Oleh sebab itu, harga oli sintesis lebih mahal daripada oli mineral. Pelumas sintetis baik digunakan untuk mesin otomotif non diesel.
Kualitas pelumas yang baik tidak hanya didapatkan dengan proses pengolahan maupun pemurnian (purifikasi), tetapi perlu ditambahkan bahan-bahan kimia tertentu yang lebih dikenal dengan aditif. Aditif yang ditambahkan ke dalam minyak pelumas bertujuan untuk memperbaiki kualitas minyak pelumas. Penambahan aditif dalam minyak pelumas ini berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi, temperatur, dan kerja dari mesin itu sendiri. Oleh karena itu jenis-jenis minyak pelumas yang kita temukan di pasaran berbeda-beda. Penambahan aditif ke dalam minyak pelumas bukan perkara mudah karena minyak pelumas akan bereaksi dengan aditif tersebut, dan juga aditif tersebut akan mempengaruhi aditif lainnya. Oleh karena itu, formulasi penambahan aditif terus dilakukan untuk mendapatkan minyak pelumas kualitas tinggi.
Minyak pelumas memiliki elemen-elemen yang penting yaitu :
1)        Viscosity. Viscosity atau kekentalan suatu minyak pelumas adalah pengukuran dari mengalirnya bahan cair dari minyak pelumas, dihitung dala ukuran standard. Makin besar perlawananya untuk mengalir, berarti makin tinggi viscosity-nya, begitu juga sebaliknya. Viscosity atau kekentalan minyak pelumas dinyatakan dalam nomor-nomor SAE (Society of Automotive Engineer). Angka SAE yang lebih besar menunjukkan minyak pelumas yang lebih kental. Ada dua jenis oli berdasarkan kekentalannya yaitu oli monograde dan oli multigrade. Oli monograde adalah oli yang indeks kekentalannya dinyatakan hanya satu angka, sedangkan oli multigrade yaitu oli yang indeks kekentalannya dinyatakan dalam lebih dari satu angka.
2)        Flash Point. Flash point atau titik nyala merupakan suhu terendah pada waktu minyak pelumas menyala seketika. Pengukuran titik nyala ini menggunakan alat-alat yang standard, tetapi metodenya berlainan tergantung dari produk yang diukur titik nyalanya.
3)        Pour Point. Merupakan suhu terendah dimana suatu cairan mulai tidak bisa mengalir dan kemudian menjadi beku. Pour point perlu diketahui untuk minyak pelumas yang dalam pemakaiannya mencapai suhu yang dingin atau bekerja pada lingkungan udara yang dingin.
4)        Total Base Number (TBN). Menunjukkan tinggi rendahnya ketahanan minyak pelumas terhadap pengaruh pengasaman, biasanya pada minyak pelumas baru (fresh oil). Setelah minyak pelumas tersebut dipakai dalam jangka waktu tertentu, maka nilai TBN ini akan menurun. Untuk mesin bensin atau diesel, penurunan TBN ini tidak boleh sedemikian rupa hingga kurang dari 1, lebih baik diganti dengan minyak pelumas baru, karena ketahanan dari minyak pelumas tersebut sudah tidak ada.
5)        Carbon Residue. Merupakan jenis persentasi karbon yang mengendap apabila oli diuapkan pada suatu tes khusus.
6)        Density. Menyatakan berat jenis oli pelumas pada kondisi dan temperature tertentu. (wordpress.com, 2009)
Dengan memperbandingkan kualitas elemen-elemen yang terkandung dalam produk minyak pelumas, produsen dan konsumen  secara bersama-sama menemukan pemahaman yang sama mengenai kualitas dan kecocokan produk pelumas dengan kebutuhan konsumen dan tingkat harga sesuai daya belinya.

c.       Penggunaan Pelumas dalam Pasar Otomotif dan Industri
Minyak pelumas digunakan dalam dunia otomotif dan industri. Saat ini penggunaan pelumas nasional semakin meningkat dikarenakan berkembangnya kegiatan industri (pabrik, tambang, dll) dan semakin tingginya pertumbuhan pasar kendaraan bermotor di Indonesia setiap tahunnya yang terus mengalami peningkatan sejak tahun 2008. Pada tahun 2013, jumlah kendaraan bermotor (mobil penumpang, mobil bis, mobil barang dan sepeda motor) di Indonesia mencapai 104.118.969 Unit (BPS, 2013). Jumlah kendaraan bermotor tersebut mengalami kenaikan yang cukup besar dibandingkan tahun 2012 yaitu 94.373.324 Unit. Perkembangan itu dapat digambarkan dalan Tabel di bawah ini.
Tabel 1  Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenisnya (2008-2013)
Tahun
Mobil Penumpang
Mobil Bis
Mobil Barang
Sepeda Motor
Jumlah Kendaraan Bermotor
2008
7,489,852
2,059,187
4,452,343
47,683,681
61,685,063
2009
7,910,407
2,160,973
4,498,171
52,767,093
67,336,644
2010
8,891,041
2,250,109
4,687,789
61,078,188
76,907,127
2011
9,548,866
2,254,406
4,958,738
68,839,341
85,601,351
2012
10,432,259
2,273,821
5,286,061
76,381,183
94,373,324
2013
11,484,514
2,286,309
5,615,494
84,732,652
104,118,969
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013
            Jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2013 didominasi oleh  sepeda motor dan mobil penumpang yang merupakan 92% dari total keseluruhan kendaraan bermotor pada tahun 2013 tersebut. Bangkitnya industri otomotif di Indonesia memberikan efek multiplier yang cukup besar, salah satu dampaknya adalah peningkatan kebutuhan akan pelumas kendaraan bermotor. Peningkatan kebutuhan tersebut menjadi kesempatan yang baik bagi perusahaan pelumas untuk memperluas pangsa pasarnya. Saat ini lebih dari 40 perusahaan dengan lebih dari 250 merek pelumas untuk otomotif maupun untuk industry memasarkan produknya di Indonesia. Beberapa perusahaan tersebut tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2 Perusahaan yang Meramaikan Pasar Pelumas Nasional
No.
Perusahaan
Merek Pelumas
1.
PT Atlas Petro
Idemitsu
2.
PT Astra Komponen Indonesia
Maxima
3.
PT Agip Lubrindo Pratama
Agip, Agip 2T Plus, Agip 4T Supra
4.
PT Bersama Eka
F1
5.
PT Borobudur Agung
BP, Vistra
6.
PT Castrol Indonesia
Castrol
7.
PT Citra Makmur Sekata
Motul
8.
PT Dirga Sarana Buana
Valvoline, Fuji, Union
9.
PT Fuch Indonesia
Titan
10.
PT Harapan Sakti
Bertdal
11.
PT Indo Sarana
Seiken
12.
PT Indo Trans
Trust
13.
PT Indocitra Sugiro
Indomobil
14.
PT Nusaraya Agung
Reeder, Penlube
15.
PT Petronas Niaga Indonesia
Syntium
16.
PT Shell Indonesia
Shell Helix
17.
PT Sukabumi Trading
Repsol
18.
PT Topindo Atlas Asia
TOP-1
19.
PT Pertamina Lubricant
Mesran, Prima XP, Mediteran, Fastron dll
20.
PT Wiraswasta Gemilang Indonesia
Pennzoil, Evalube, Molytex
Sumber : SWA Online (2006)

2.        ANALISIS STRUCTURE CONDUCTS PERFORMANCE (SCP)
Teori-teori yang terdapat dalam ekonomi industri menekankan pada studi empiris dari faktor-faktor yang mempengaruhi struktur pasar (structure), perilaku (conduct), dan kinerja (performance) sehingga tercapai tingkat efisiensi bagi perusahaan, industri, serta perekonomian nasional secara keseluruhan (Jaya, 2001). SCP, mengikuti  pendapat The Feedback Critique, adalah kinerja ekonomi suatu industri yaitu suatu fungsi dari perilaku pembeli dan penjual yang selanjutnya berdampak pula pada fungsi struktur industri (Baye&Prince, 2013).  Kinerja ekonomi diukur dengan derajat maksimalisasi kesejahteraan. Perilaku mengacu pada aktivitas penjual dan pembeli dalam industri. Aktivitas penjual meliputi pemanfaatan dan instalasi kapasitas, kebijakan promosi harga, riset dan pengembangan atau kerjasama antar perusahaan (Sri Adiningsih, 2006).
a.        Struktur (Structure)
Struktur industri dapat dilihat berdasarkan jumlah pelaku dan pangsa pasarnya yang menentukan market conduct atau perilaku perusahaan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Semakin banyak jumlah penjual maka persaingan akan meningkat, sehingga keuntungan akan menurun. Sementara itu derajat dari diferensiasi produk, pengetahuan penjual dan pembeli mengenai produknya serta adanya hambatan untuk masuk pasar akan mempengaruhi kekuatan penjual di pasar. Meskipun demikian biasanya dalam literatur sering digunakan Concentration Ratio (CR) dan Herfindahl Hirschman Index (HHI) untuk mengukur konstrasi pasar. Rasio konsentrasi atau Concentration Ratio (CR) berkisar antara 0 sampai dengan 100%, dimana 0% berarti kompetisi penuh. Sebagai contoh jika = 0% berarti 4 perusahaan terbesar dalam industri tidak mempunyai pangsa pasar yang signifikan. =50-80% menunjukkan bahwa struktur industri tersebut bersifat oligopoly, dan apabila 100% maka oligopoli yang sangat terkonsentrasi. Kemudian jika =100% berarti struktur pasarnya monopoli penuh. Pengukuran Consentration Ratio tidak memperhitungkan seluruh pangsa pasar perusahaan dalam industri dan tidak menunjukkan distribusi dari ukuran perusahaan secara keseluruhan. Rasio konsentrasi hanya memberikan petunjuk derajat kompetisi dan sifat oligopolistik dalam sebuah industri.  Secara matematis CR dapat dihitung menggunakan formula sebagai berikut:
 =
Sehingga,      =   +  + …… +
Dimana  adalah pangsa pasar dan m adalah perusahaan ke m.
Berbeda dengan CR, Herfindahl-Hirschman Index (HHI) memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai konsentrasi rasio dalam sebuah industri. Herfindahl Hirschman Index (HHI) adalah ukuran besar kecilnya perusahaan dalam sebuah industri yang sekaligus merupakan indikator kompetisi diantara perusahaan-perusahaan tersebut. HHI didefinisikan sebagai jumlah kuadrat dari pangsa pasar masing-masing perusahaan dalam industri. Untuk menghindarkan pecahan, nilai tersebut dikalikan dengan angka 10.000. Biasanya nilai HHI terletak antara 0 sampai dengan 10.000. Nilai HHI 10.000 terjadi ketika dalam suatu industri terdapat satu perusahaan; dan nilai HHI=0 terjadi ketika terdapat banyak sekali perusahaan-perusahaan kecil di dalam industri. Menurut klasifikasi Horizontal Merger Guidelines yang diterbitkan Federal Trade Commision (FTC) dan Antitrust Division of U.S. Department of Justice (DOJ) dijelaskan bahwa nilai HHI<100 menunjukkan derajat kompetisi yang tinggi antar perusahaan-perusahaan yang bergerak  dalam suatu industri. Selanjutnya  100<HHI<1500 menunjukkan derajat kompetisi industri yang tidak terkonsentrasi, dan 1500<HHI<2500 menunjukkan derajat konsentrasi moderat antar perusahaan dalam industri yang bersangkutan. Apabila  telah melebihi angka 2500 (HHI>2500), maka hal ini mengindikasikan adanya  derajat konsentrasi yang tinggi dalam industri yang bersangkutan. Derajat konsentrasi yang tinggi berarti dalam pasar hanya ada beberapa perusahaan saja yang menguasai pangsa pasar yang besar. Secara matematis HHI dapat dihitung menggunakan formula sebagai berikut:
HHI = ,
Dimana,
Si = Jumlah pangsa pasar dari perusahaan i
n = jumlah perusahaan yang ada dipasar

Berikut ini tabel tipe-tipe pasar berdasarkan kondisi utamanya.
Tabel 3 Tipe-tipe Pasar Berdasarkan Kondisi Utama
Ciri-ciri
Monopoli
Perusahaan Dominan
Oligopoli
Persaingan Monopolistik
Persaingan Sempurna
Kondisi Utama
Memiliki 100% pangsa pasar
Menguasai 50-100% pangsa pasar tanpa pesaing ketat
Gabungan beberapa perusahaan terkemuka yang pangsa pasarnya 60-100%
Banyak pesaing yang efektif, tidak satupun memiliki lebih dari 10% pangsa pasar
Lebih dari 50 pesaing yang tidak satupun memiliki pangsa pasar yang berarti
HHI
(tidak dikalikan 10000)
HHI=1
0.21<HHI<1
0.01<HHI<0.18
0.01<HHI<0.1
HHI<0.01
Jumlah Prosedur
Satu
Banyak
Sedikit
Banyak
Sangat Banyak
Entry/Exit Barrier
Sangat Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Sangat Rendah
Tipe Produk
Heterogen
Heterogen
Homogen dan Heterogen
Heterogen
Homogen
Kekuasaan Menentukan Harga
Sangat Besar
Relatif
Relatif
Sedikit
Tidak Ada
Persaingan selain harga
Tidak Ada
Besar
Besar
Besar
Tidak Ada
Informasi
Sangat Terbatas
Cukup Terbuka
Terbatas
Cukup Terbuka
Terbuka
Profil
Berlebih
Berlebih
Agak Berlebih
Normal
Normal
Efisiensi
Kurang
Kurang
Kurang
Cukup
Baik
Sumber : Media Ekonomi Vol 18, No. 3, 2010
Menurut Menteri Perindustrian Saleh Husein, potensi pasar pelumas dalam negeri tahun 2015 ini sebesar 850 ribu kiloliter per tahun (Republika online, 24/01/ 2015), naik sebesar 150 ribu kiloliter sejak tahun 2010. Konsumsi tersebut sudah termasuk pelumas industri dan otomotif ; dengan rincian 450 ribu kiloliter untuk otomotif dan sisanya adalah untuk industri. Pelumas otomotif dibagi dua yaitu sepeda motor dan mobil. Sedangkan pelumas untuk sepeda motor dibagi lagi menjadi 2 Tak dan 4 Tak, dengan total market 225 ribu kiloliter per tahun dan 20%-nya merupakan motor matic (motorotomotif.net.com, 2011).
Di Indonesia terdapat sekitar 250 merek pelumas baik lokal maupun asing, yang beredar di pasar dalam negeri. Berbagai merek global pun ikut bersaing seperti Shell, Castrol Power1, Motul, Top One, BM1, Fucsh, Agip, Syntium, Adnoc, Valvoline, Krieger, Mobil, Chevron, Total, dan Idemitsu dari Jepang. Sedangkan swasta nasional yang meramaikan bisnis ini yaitu Evalube, Penlube, CGI, Fuji, dan United. Meskipun pasar kendaraan bermotor di dalam negeri didominasi produk-produk Jepang, namun pelumas produk jepang seperti Nippon Oil dan Idemitsu relatif lebih berkonsentrasi ke mesin-mesin berat. Industri otomotif Jepang di Indonesia justru cenderung menggunakan produk-produk pelumas lokal sebagai oli resmi kendaraan produknya. Honda misalnya, merekomendasikan pelumas Federal (produk Pertamina) sebagai oli resmi sepeda motor Honda.
Berikut ini 9 perusahaan  pelumas yang memiliki pangsa pasar di Indonesia pada tahun 2012.
Tabel 4 Pangsa Pasar Perusahaan Pelumas di Indonesia
No.
Nama Perusahaan
% Pangsa Pasar
(Ribu ton/tahun)
100.00%
620
1.
Pertamina
61.50%
381
2.
Shell
9.70%
60
3.
BP (Castrol)
6.30%
39
4.
Idemitsu
6.00%
37
5.
Top 1
4.80%
30
6.
Total
2.90%
18
7.
Chevron
2.30%
14
8.
WGI (Evalube)
1.90%
12
9.
JX Nippon Oil & Energy
1.20%
7
Sumber : PFC Energy, 2012
Berdasarkan tabel 4 di atas tampak bahwa berdasarkan data tahun 2012, PT Pertamina masih menguasi pasar sebesar 61.5% pasar pelumas nasional, kemudian disusul oleh Shell sebesar 9.7%, BP (Castrol) 6.30%, pelumas Jepang Idemitsu dan Nippon Oil & Energy masing-masing sebesar 6% dan 1.2%. Pada pertengahan tahun 2015, Pertamina mengusai pangsa pasar sebesar 56,87%, angka tersebut merupakan angka yang cukup tinggi karena best practice di negara lain kebanyakan market leader hanya mampu mencapai pangsa pasar sebesar 30%. Salah satu cara menjaga pangsa pasar adalah dengan bergabung ke global supply chain dan juga menggandeng technical partner (CNN Indonesia, 2015).
Untuk melihat struktur industry minyak pelumas di Indonesia, maka dilakukan penghitungan CR-4 dan HHI dengan menggunakan formula di atas dan menggunakan data tersebut pada table 4, dan hasilnya disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 5 Pangsa Pasar Industri Pelumas Nasional, 2012
No.
Nama Perusahaan
Pangsa Pasar
1.
Pertamina Lubricants
0.615
0.37823
2.
Shell
0.097
0.00941
3.
BP (Castrol)
0.063
0.00397
4
Idemitsu
0.060
0.0036
5.
Top 1
0.048
0.0023
6.
Total
0.029
0.00084
7.
Chevron
0.023
0.00053
8.
WGI (Evalube)
0.019
0.00036
9.
JX Nippon Oil & Energy
0.012
0.00014
10.
Lainnya
0.034
0.00116


 = 0.835
HHI = 4005
            Sumber : FPC Energy, 2012 diolah.
Dengan melihat data-data di atas nampak bahwa konsentrasi pasar pelumas oli di Indonesia pada 4 (empat) teratas dikuasai oleh produk-produk Pertamina Lubricants, Shell, BP (Castrol) dan Idemitsu. Nilai  hasil perhitungan sebesar 0.835 menunjukkan bahwa sebesar 83.5% pangsa pasar minyak pelumas nasional dikuasai oleh empat perusahaan tersebut. Sedangkan HHI sebesar 4005 menunjukkan bahwa derajat konsentrasi industri pelumas di Indonesia tinggi berciri pasar oligopoli, dengan market leader adalah PT Pertamina Lubricants.
           
b.        Perilaku (Conduct)
Diketahui bahwa struktur pasar biasanya akan mempengaruhi perilaku pelaku pasar. Perilaku pasar (conduct) adalah perilaku suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan dalam harga, tingkat produksi, kualitas produk dan promosi, research and development, merger dan akuisisi serta penerapan teknologi baru dan inovasi. Dalam hal ini, industri minyak pelumas di Indonesia yang termasuk pasar oligopoli  menimbulkan persaingan karena semakin banyaknya pelaku usaha yang menawarkan produk pelumas dengan kualitas yang bagus dan  harga bersaing, sehingga konsumen memiliki beragam pilihan.
Melihat banyaknya produk yang ditawarkan untuk konsumen dalam indutri pelumas oli di Indonesia, memaksa para pelaku usaha untuk memiliki rencana strategis guna menguasai dan bertahan dalam pangsa pasar pelumas oli di Indonesia. Jika sebuah perusahaan dalam industri yang bersifat oligopoli merubah perilakunya maka perusahaan lain akan memperoleh insentif dari kesempatannya bereaksi terhadap perilaku perusahaan tersebut. Jadi rencana strategis sebuah perusahaan dalam pasar oligopoli tergantung pada harapan perusahaan tersebut mengenai bagaimana perusahaan pesaingnya akan bereaksi, jika rencana strategi tersebut diterapkan. Karakteristik utamanya adalah ketergantungan timbal balik antar perusahaan-perusahaan dalam industri tersebut. Oleh sebab itu, maka rencana-rencana strategis yang dilakukan oleh Pertamina Lubricants sebagai market leader, harus mempertimbangkan pula kemungkinan reaksi dari perusahaan lain seperti Shell dan Castrol, dan begitu pula sebaliknya; sehingga memerlukan antisipasi yang cukup sulit dalam mengelola perusahaan dalam pasar oligopoly semacam ini.
Dari data yang diperoleh melalui open source, beberapa strategi yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut antara lain sebagai berikut:
1)         Strategi Penetapan Harga (Pricing)
Penentuan harga pada pasar oligopoli biasanya sangat dipengaruhi oleh positioning price dari market leader. Dalam hal ini, harga yang ditetapkan oleh Pertamina Lubricant sebagai market leader biasanya menjadi bahan rujukan bagi produsen pelumas lainnya. Pesaing Pertamina Lubricant akan berani menetapkan harga yang lebih mahal, jika mereka yakin produk yang ditawarkan mempunyai spesifikasi yang khusus dan lebih unggul dari produk Pertamina serta ditargetkan secara khusus pula untuk segmen pasar tertentu. Dalam menetapkan harga Pertamina menentukan harga yang relative tinggi pada produk-produk pelumas otomotif premium, dan hal ini juga diikuti oleh misalnya Castrol Sintetik dan Shell Oil Advance Ultra 4T yang merasa percaya diri dengan  klaim bahwa produknya mempunyai unggulan tertentu.  Penetapan harga pada pasar industry tidak terlalu tampak terbuka, karena biasanya pemasaran dilakukan secara dor-to-dor dengan pendekatan perusahaan langsung kepada user. Namun demikian, sebagaimana tampak dalam ilustrasi table berikut ini disajikan daftar harga pelumas otomotif tahun 2015, tidak jauh berbeda satu sama lain.
Tabel 6 Daftar Harga Produk Minyak Pelumas 2015
Perusahaan
Produk
Harga
Pertamina
Fastron 0W-50
140,000
Fastron 10W-30
60,000
Fastron 10W-40
52,000
Fastron 20W-40
44,000
Enduro 4T racing
38,000
Prima XP 10W-40
37,500
Prima XP 20W-50
32,500
Enduro 4T
31,000
Mesran Super 20W-50
26,500
Mesran 40
23,000
Shell
Shell Oil Advance ultra 4T
160,000
Shell Oil Advance VSX 4T
45,000
Shell Oil Advance SX 4T
25,000
Shell Oil Advance SX 2T
24,500
Shell Oil Advance S 4T
23,500
Citra Makmur Sekata
Motul 5100 ester 4T
85,000
Motul 510 power lube 2T
75,000
Motul 3100 gold 4T
45,000
Astra Honda Motor
AHM MPX  4AT
32,000
AHM MPX 4T
29,000
Castrol Indonesia
Castrol Oil Active 2T
31,500
Castrol Oil Power 1 4T
26,500
Castrol Oil Active extra 4T
26,000
Yamaha
Yamalube Gold 4T
29,000
Yamalube Matic
27,000
Yamalube Silver 4T
26,000
Yamalube Gear
9,000
Topindo Atlas Asia
Top 1 oil Action matic 10W-30
27,000
Top 1 oil Action plus
26,500
Top 1 oil Action matic 20W-40
26,000
Top 1 Oil SMO MC 4T
25,000
Sukabumi Trading
Repsol Oil Moto 4T
25,000
Repsol Oil Moto super 4T
23,500
Federal Karyatama
Federal Oil Supreme xx 4T
85,000
Federal Oil Ultratec 4T
21,000
WGI
Evalube Pro syn 4T
22,000
            Sember: Published Price List Aneka Produk Pelumas 2015, diolah.
Berdasarkan data tabel di atas dapat dilihat bahwa harga-harga dari produk pelumas yang ditawarkan perusahaan hampir mendekati satu sama lain, yang membedakan adalah variasi produk-produknya. Misalnya adalah Pertamina memiliki banyak variasi produk karena segmentasi pasarnya tidak hanya untuk otomotif (mobil dan motor 2T dan 4T), namun bekerjasama dengan perusahaan BUMN seperti PT KAI, PT Pelni, Industri Pertambangan, dan Kontruksi alat-alat berat. Untuk jenis-jenis pelumas yang lain, harga produk Pertamina sedikit lebih mahal dari produk pesaing, namun dari sisi kualitas biasanya pertamina menentukan standar sesuai dengan ketentuan ambang tengah keatas yang mengacu pada standar API-SN (standarisasi yang dikeluarkan oleh American Petrolium Institute). Sedangkan untuk segmen pasar elastis seperti sepeda motor dan angkutan umum, Pertamina men set-up produknya mengikuti standard ambang bawah dengan harga yang lebih murah daripada produk pesaing (SWA online, September 2014).

2)      Strategi Pemasaran (Marketing)
Suatu perusahaan selalu mempunyai cara dalam memasarkan produknya, diantaranya melalui above the line atau below the line. Above the line yaitu pemasaran yang dilakukan perusahaan melalui iklan TV atau media massa, sedangkan promosi below the line adalah strategi pemasaran yang lebih mengutamakan loyalty konsumen melalui SPG atau SPB, memberikan hadiah-hadiah dan bonus bagi konsumen maupun pedagang, melakukan campaign dan coaching clinic, membuat event, mensponsori balapan MotoGP, mensponsori mudik lebaran dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan oleh pemain pasar minyak pelumas di Indonesia untuk menarik perhatian konsumsen agar membeli produknya.
PT. Pertamina Lubricant.
PT Pertamina Lubricant melakukan pemasaran produk-produknya untuk segmen pasar luar negeri maupun dalam negeri. Tujuan utamanya paling tidak untuk mempertahankan pangsa pasar yang telah diraihnya. Untuk dalam negeri tujuannya adalah membuat brand milik pertamina menjadi leading dibanding brand-brand lain baik produk lokal maupun impor. Sementara untuk luar negeri melakukan  sosialisasi untuk penetrasi pasar ASEAN, Australia dan lainnya dalam tahapan membangkitkan brand awareness terhadap pasar internasional. Tujuannya disamping memperluas pasar di luar negeri juga untuk memperkuat image di dalam negeri. Apabila merek Pertamina dikenal di luar negeri biasanya konsumen di dalam negeri akan lebih menghormati lagi, karena mindset budaya masyarakat Indonesia yang cenderung “luar negeri minded”. Dalam menyesar pasar luar negeri Pertamina Lubricant  turut mensponsori pembalap Rio Haryanto di GP2, Rifat Sungkar dan Alexandra Asma Soebrata di rally yang diharapkan dapat membesarkan nama brand baik untuk segmen pasar luar negeri maupun segmen pasar dalam negeri (SWA-Online, 29/11/2015). Cara lain untuk menjaga pangsa pasar yaitu dengan bergabung ke global supply chain dan juga menggandeng technical partner yaitu Lambhorgini yang logonya kemudian dapat dipasang di kemasan. Kerjasama dengan pabrikan otomotif asal Italia ini akan berlangsung selama empat tahun dari 2015 hingga 2019, dimana Pertamina Lubricants juga akan menyediakan pelumas bagi kegiatan otomotif Lamborghini. Selain itu, Pertamina Fastron juga dipercaya sebagai pelumas utama di 129 diler Lamborghini di seluruh dunia. Kerjasama ini membuktikan kualitas pelumas Pertamina, dan sdiharapkan berpengaruh juga kepada kinerja marketing baik dalam negeri dan luar negeri, dan pengaruh juga ke market share (CNN Indonesia-Online, 28/08/2015).
Untuk pemasaran, Pertamina Lubricant memiliki keunggulan melalui 5.200 SPBU yang dimiliki Pertamina yang tersebar secara nasional, disamping melalui bengkel-bengkel,  dan retailer lainnya (SWA-Online, 29/11/2014). Pelumas Pertamina juga dipasarkan melalui outlet khusus yang disebut  Pertamina Olimart yang melayani penjualan dan sekaligus servis penggantian pelumas otomotif. Agen pelumas juga digunakan untuk oli otomotif.  Sedangkat untuk segmen industry Pertamina Lubricant memasarkannya langsung bangkan dengan  insentif khusus bagi konsumen industri dengan kebutuhan minimal 20 kiloliter/bulan (www.pertamina.com).
Shell.
Sejak ijin dibukanya retailer bahan bakar minyak, Shell telah memiliki 70 lokasi SPBU di Jabodetabek, Bandung dan Surabaya. Mengikuti jejak Pertamina melalui 5200 SPBU miliknya, SPBU Shell tersebut juga digunakan sekaligus sebagai gerai untuk penjualan pelumas Shell. Disamping itu strategi pemasaran dan distribusi yang dilakukan oleh PT Shell Indonesia yaitu melakukan pemitraan strategis dengan PT Astra Otopart Tbk dan memunculkan co-branding Shell Astra. Beberapa produk yang diluncurkan misalnya Shell Helix AJ 10W-30 for Astra dan Shell Helix AJ 10W-40 masing-masing dalam kemasan 1 liter dan 4 liter. Pemasaran produk tersebut dilakukan dengan menggunakan jaringan ritel otomotif modern yang dibangun oleh PT Astra Otopart yaitu Shop&Drive yang menyebar luas di Indonesia, khusunya di Pulau Jawa dan Bali sementara dengan total 134 gerai pada tahun 2011 (SWA-Online, 11/10/2011).
Castrol.
Oli Castrol terlebih dahulu di kenal di luar negeri daripada di Indonesia, dengan slogannya “Castrol: it’s more than just oil, it’s liquid engineering”, perusahaan ini telah eksis lebih dari 100 tahun lalu di UK dan Irlandia ( www.castrol.com, 29/09/2015). Untuk segmen oli otomotif Castrol membidik populasi skutik dengan Castrol Power 1 yang diklaim mampu melindungi mesin pada gesekan rendah dan suhu yang ekstra tinggi, serta memberikan 50% tingkat kebersihan serta dapat mengurangi penumpukan s/d 70% di bagian mesin, sehingga mesin tetap bersih (SWA-Online, 10/09/2007).
Pelumas Castrol mulai memasuki pasar Indonesia sejak 1970, dan mendirikan perusahaan PT Castrol Indonesia pada 14 Mei 1998. Citra produk Castrol di Indonesia disebabkan oleh brand image dari luar negeri, sebagai contoh dengan mensponsori rally motoGP bersama Tim Honda yang sejauh ini telah mencatat kemenangan ke-500 bersama MotoGP Honda. Selain itu, untuk segmen mobil, di ajang  rally Castrol menggandeng Tim Audi dan VW, serta balapan Truk Eropa FIA (FIA European Truck Racing Championship) bersama-sama dengan MAN yang merupakan ajang pengujian terakhir bagi Castrol untuk kendaraan komersial berat. Event-event tersebut berhasil membawa brand image di dalam negeri melalui strategi above the line yang disiarkan dalam tayangan TV Sport yang dapat menjangkau tanah air. Pemasaran pelumas Castrol sendiri dilakukan melalui ritel-ritel pelumas, bengkel dan outlet-outlet lainnya (www.castrol.com/id_id/indonesia/sport).

3)        Integration and Merger
Integrasi dan merger dewasa ini dilakukan dengan teknik yang semakin inovatif untuk mengelabui regulator. Bukan hanya vertical dan horizontal merger dalamarti harfiah dengan cara mengakuisisi dan menggabung perusahaan lain, tetapi dengan teknik aliansi strategis dalam kegiatan operasional dan pemasaran. Industri pelumas nasional juga melakukan teknik semacam ini.
Pertamina Lubricant.
Untuk lebih memfokuskan diri mengembangkan bisnis minyak pelumas, pada tahun 2013 PT Pertamina menyapih Unit Pelumas dari perusahaan induk Minyak dan Gas dan menjadikannya sebagai entitas anak perusahaan tersendiri dengan nama Pertamina Lubricants. Pembentukan anak perusahaan ini disertai dengan visi dan misi baru serta target-target kinerja yang konkrit sehingga manajemen anak perusahaan ini lebih focus dalam menghadapi gempuran pesaing yang makin besar.
Sebagai BUMN, Pertamina Lubricant memiliki keunggulan di dalam membangun aliansi bisnis dengan BUMN lainnya. Dengan Induk perusahaannya, yaitu Pertamina Oil & Gas, sudah barang tentu Pertamina Lubricant diuntungkan dengan suplai bahan baku minyak bumi untuk bahan bakunya. Selain karena telah lama memiliki pabrik dan memproduksi sendiri pelumas di dalam negeri, Pertamina unggul karena bahan baku ini. Additive yang diperlukan juga bisa diperoleh dari supplier luar negeri dengan bargaining posision yang kuat karena pangsa yang besar di bidang pelumas otomotif dan industry di Indonesia.  Selain bahan baku, dari perusahaan induk Pertamina Lubricant juga diuntungkan dengan bisa menumpang pemasaran pelumas melalui SPBU Pertamina.
Bukan itu saja, Pertamina Lubricant juga menjalin aliansi strategis dengan memenuhi kebutuhan aneka jenis pelumas bagi BUMN lainnya seperti PT KAI, PT Garuda, PT Pelni, Aneka Tambang sampai dengan supply pelumas bagi alat-alat berat BUMN konstruksi seperti Adhi Karya, Waskita Karya, Pembangunan Perumahan dan lain-lain.  Dalam hal ini, Pertamina Lubricant bukan saja menyediakan pelumas saja tetapi juga menyediakan services belupa coaching on site clinic dengan menyediakan ahlinya melakukan analisa dan pelumasn terhadap mesin-mesin mereka.
Shell.
PT Shell Indonesia melakukan kemitraan strategis dengan PT Astra Otoparts Tbk  dengan peluncuran pelumas co-branding untuk menjawab kebutuhan pengguna kendaraan bermotor  melalui pelumas Shell-Astra.
Pelumas co-branding Shell-Astra bertujuan untuk membangun kemitraan yang didasarkan atas kekuatan dan keunggulan masing-masing di bidang pelumas (Shell) dan otomotif (Astra). Kemitraan tersebut merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan portofolio yang kuat dalam memberikan keunggulan produk, nilai, dan citra perusahaan.
Citra Astra sebagai pemimpin pasar bisnis otomotif di Indonesia tentu menjadi daya tarik dan kekuatan untuk meluncurkan produk-produk yang berhubungan dengan otomotif, dan Astra Otoparts sebagai anak perusahaan Astra yang khusus memproduksi serta memasarkan komponen otomotif serta produk turunannya dapat berkolaborasi dengan Shell Indonesia untuk produk pelumas co-branding bagi pasar otomotif Indonesia (SWA-Online, 11/10/ 2011).
            Federal Oil-AHM Oil
             PT Federal Karyatama sebagai produsen minyak pelumas Federal Oil juga menerapkan strategi yang sama dengan Shell-Astra. Pelumas yang diproduksi Federal Karyatama selalu diserap oleh motor dan mobil Honda. Pada tahun 2009-2010  Federal Motor berubah menjadi Astra Honda Motor (AHM), maka setelah itu AHM merilis oli merek pelumas baru dengan nama AHM Oil.
Fenomena  inipun diikuti oleh perusahaan pelumas lainnya, seperti misalnya dirilisnya merek TMO (Toyota Motor Oil) yang dicitrakan sebagai genuine oil for Toyota yang seolah-olah berarti bahwa jika konsumen menggunakan kendaraan Toyota harus menggunakan Toyota Motor Oil. Termasuk dalam jenis aliansi ini adalah Evalube beraliansi dengan Yamaha mengeluarkan produk Yamaha-Lube
KPPU.
Aliansi strategis antara produsen pelumas dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) jelas menimbulkan image yang sangat kuat dalam upaya penguasaan pasar. Fenomena ini sempat diprotes masyarakat dan menjadi perhatian KPPU. Selama ini bisnis minyak pelumas kendaraan bermotor baru disinyalir dimonopoli oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Kendaraan yang masih dalam masa garansi, jika memakai minyak pelumas non-ATPM, garansinya bisa hangus. ATPM selalu ingin menguasai pasar, konsumen diarahkan menggunakan pelumas tertentu.
4)         Research and Development
Industri minyak pelumas adalah industry yang sangat kaya kegiatan penelitian dan pengembangan. Berbagai penemuan baru diklaim sebagai keunggulan merek-merek tertentu yang dimaksudkan untuk mendongkak pangsa pasar untuk segmen pengguna yang spesifik.
Pertamina Fastron misalnya, mengeluarkan produk seri baru secara berkala untuk tetap memelihara pangsa pasarnya. Melalui laboratorium yang dimilikinya Pertamina Lubricant mengeluarkan biaya yang cukup besar dalam inovasi produk, baik minyak pelumas mineral maupun sintetis.
Pada tahun 2014 misalnya, Shell mengeluarkan gebrakan baru dalam  teknologi industri pelumas mobil, yang diberi nama Shell PurePlus Technology. Teknologi ini dikembangkan melalui riset teknologi gas-to-liquid (GTL), yaitu mengubah gas alam menjadi bahan dasar pelumas full sintetis. Shell PurePlus Technology adalah proses yang sangat revolusioner dari teknologi gas ke carian. Teknologi ini berkembang pesat karena kemampuannya mengolah gas alam, dalam menghasilkan bahan dasar sintetis yang lebih baik (murni) kualitasnya dibandingkan dengan produk turunan minyak bumi (SindoNews.com, 22/09/2014).

c.       Kinerja Pasar (Performance)
Industri pelumas di dalam negeri saat ini melebihi kapasitas hingga 47%. Kondisi ini terjadi karena produk pelumas impor membanjiri pasar domestik. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, saat ini terdapat lebih dari 20 pabrik pelumas atau Lube Oil Blending Plant (LOBP) di Indonesia. Secara keseluruhan pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi mencapai 1,8 juta kiloliter per tahun dengan omzet sekitar Rp 7 triliun.  Sementara itu, potensi pasar pelumas dalam negeri hanya sekitar 850 ribu kiloliter per tahun, sehingga terjadi kelebihan kapasitas pelumas lokal sebesar 47%. Di saat produksi pelumas lokal melimpah, pasokan produk pelumas impor meningkat hingga 50% dalam empat tahun terakhir. Pada tahun 2010, produk pelumas impor kira-kira sebesar 200 ribu kiloliter yang kemudian meningkat menjadi 300 ribu kilo liter pada 2013. Karena produksi pelumas yang melimpah, industri pelumas harus melakukan ekspor terutama ke pasar Asia Tenggara, Asia, dan Uni Eropa. Hal itu akan didukung dengan rencana pemerintah yang menerapkan sejumlah kebijakan nontarif guna mengendalikan impor produk pelumas dan mengamankan pasar dalam negeri. Kebijakan itu di antaranya, yakni penerapan standar nasional Indonesia (SNI), program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), dan perlindungan yang dilakukan melalui safe guard, serta bea masuk anti-dumping.
Kinerja ekspor industri pelumas domestik diharapkan semakin besar setelah PT Shell  Indonesia membangun pabrik pelumas di Tanah Air. Pembangunan pabrik pelumas ini merupakan yang keenam di Asean setelah Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Pabrik pelumas Shell di Indonesia yang berlokasi di Marunda, Jakarta Utara itu telah selesai tahap pembangunannya dan telah mulai beroperasi pada tahun 2015. Pabrik pelumas tersebut nantinya memiliki kapasitas produksi sebesar 120 ribu ton atau 136 juta liter per tahun. Kapasitas itu merupakan yang terbesar dibandingkan perusahaan minyak internasional lain di Indonesia. (Republika online, 14 Januari 2015).
Para produsen minyak pelumas di Indonesia memprediksikan bahwa permintaan akan minyak pelumas industri akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia. Pemerintah telah membidik pembangunan sector infrastruktur dan manufaktur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dengan target peningkatan kontribusi terhadap GDP (Produk Domestik Bruto) sebesar 23-40 persen hingga tahun 2025. Pertumbuhan sektor otomotif dan industri dalam beberapa tahun terakhir yang meningkat, dan telah berhasil menciptakan permintaan yang besar untuk produk-produk terkait otomotif dan manufaktur di seluruh Asia Tenggara. Namun Ipsos Consulting mencatat bahwa peluang pertumbuhan ini juga membawa persaingan yang ketat baik dari perusahaan-perusahaan minyak internasional maupun nasional. Dalam pemilihan minyak pelumas, harga tetap merupakan faktor yang penting dan tidak mengherankan bahwa Pertamina adalah pemimpin pasar. Pertamina mampu mempertahankan harga yang sama dan pasokan yang stabil di pulau Jawa (iap new, 27 Maret 2015).
Kinerja Pertamina Lubricants juga cukup menggembirakan. Produsen ini mempunyai total penjualan sekitar Rp10,5 triliun, dengan omset luar negeri sebesar Rp1,5 triliun atau sekitar 10 -15 % dari pendapatan. Produk Fastron sendiri pertumbuhannya cukup bagus, tahun 2013 semester I tumbuh 20 % tahun 2014 semester pertama naik menjadi 22 %. Pasar luar negeri tumbuh lebih besar, tapi dari sisi volume pasar dalam negeri masih lebih besar. Pertumbuhan di luar produk Fastron itu mencapai 30 %. (SWA-Online, 26 Agustus 2014). Hal ini didukung dengan adanya pendistribusian dan pemasaran domestik dan overseas yang didukung oleh 3 (tiga) Production Unit yang berlokasi di Jakarta, Cilacap dan Gresik, dan 7 (tujuh) Sales Region.Untuk penjualan pada periode 2012 – 2013 Pertamina mencatatkan laba di angka Rp 1,5 triliun, kemudian untuk tahun 2013 – 2014 di angka Rp 2,2 triliun. Adapun untuk prosentase penyumbang labanya, 40% berasal dari pasar luar negeri, sementara 60% berasal dari pasar dalam negeri (SWA-Online, 29 September 2014).
Untuk Federal Oil, selama transformasi antara Federal oil dengan Astra Honda Motor (AHM) yang berlangsung  antara tahun 2010-2014, sales volume tumbuh 10% dari pertumbuhan populasi sepeda motor. Produksi Federal naik dari 312.000 botol per hari, menjadi 384.000 botol per hari atau naik 21%. Pertumbuhan revenue (revenue growth) sebesar 14%, 22% growth in GP margin, serta NPAT growth sebesar 27%. Bentuk keberhasilan transformasi dari sisi non-financial aspek adalah penghargaan dari beberapa lembaga seperti TOP Brand Award, WOW Brand Award, Product Quality Award, hingga Employer of Choice Award oleh Hay Group (SWA-Online, 28 Januari 2015).
Kinerja industry ini tentu saja berpengaruh terhadap pertumbuhan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat, yang berdampak pada perekonomian nasional.

3.      PENUTUP

Dari analisis SCP yang dilakukan, melalui perhitungan CR-4 dan HHI sebagaimana diuraikan di atas ternyata bahwa Industri Minyak Pelumas di Indonesia saat ini dapat diklasifikasikan sebagai pasar oligopoli. Pertamina Lubricants merupakan market leader yang perilakunya sedikit banyak diantisipasi dengan baik oleh para pesaingnya.
Strategi pricing dilakukan hampir sama oleh para pesaing dalam industry, terjadi saling antisipasi satu dengan lainnya. Perbedaan harga tidak terlalu menyolok dan sebagian besar disebabkan karena perbedaan kualitas pelumas yang ditawarkan, serta sensitifitas segmentasi konsumen yang dihadapi.
Kinerja industri minyak pelumas berkembang sesuai dengan perkembangan otomotif dan industry yang semakin maju dengan inovasi teknologi yang berkesinambungan. Dengan diberlakukannya regulasi yang membuka pasar persaingan, berbagai macam produk dan merek pelumas berkembang di tanah air yang semakin menambah pilihan bagi konsumen dan menambah efisiensi kinerja perusahaan.
Paper ini mengandung banyak kekurangan, terutama dari segi keterbatasan kualitas data karena keterbatasan waktu melakukan riset. Sumber-sumber diakses secara on-line dan banyak analisis yang dilakukan hanya berdasarkan persepsi semata dari sumber-sumber berita yang tersedia dalam situs media.


















DAFTAR PUSTAKA

Baye, Michael R. & Prince, Jeffrey T. 2013. Managerial Economics and Business Strategy. 8th Ed. McGraw Hill Education. London
BPS, 2013. Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenisnya Tahun 2008-2013. http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1425
Cases in Management Indonesia’s Business Challeges oleh: Cases Center Department. FE UI. Salemba Empat. Jakarta, 2008.https://books.google.co.id/books?id=ySgCXWkm P8AC&pg=PA191&lpg=PA191&dq
CNN Indonesia, 2015. Persaingan Oli Ketat, Pertamina Tetap Bidik Pangsa Pasar 50 Persen. http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150828151543-85-75196/persaingan-oli-ketat-pertamina-tetap-bidik-pangsa-50-persen.
Iap news, 27 Maret 2015. Tahun 2019 Diprediksi Total Penjualan Minyak Pelumas Capai 3 Miliar Liter. http://www.iapnews.co.id/tahun-2019-diprediksi-total-penjualan-minyak-pelumas-capai-3-miliar-liter/
Koran Kompas, 18 September 2003.
Mahera, Biondi. 2010. Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerka Industri Minum di Indonesia Periode 2006-2009. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta 2010
Pratama, Lony Duta. 2011. Kajian Optimalisasi Biaya Produksi Dan Persediaan Bahan Baku pada PT Federal Karyatama. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64863
Republika online, 14 Januari 2015. Pasokan Pelumas Domestik Melebihi Kapasitas. http://www.republika.co.id/berita/koran/ekonomi-koran/15/01/14/ni5ng812-pasokan-pelumas-domestik-melebihi-kapasitas.
Sri Adiningsih, 2006. Ketua Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada. Persaingan Pada Industri Telepon Selular di Indonesia.
Swa-online, 10 September 2007. Castrol Luncurkan Pelumas Khusus Skutik. http://swa.co.id/listed-articles/castrol-luncurkan-pelumas-khusus-skutik
Swa-online, 11 Oktober 2011. Pelumas Co-Branding Dari Shell-Astra Otoparts. http://swa.co.id/business-strategy/marketing/pelumas-co-branding-dari-shell-astra-otoparts
Swa-online, 26 Agustus 2014.Fastron, Jagoan Oli dari Pertamina Lubricants.http://swa.co.id/ business-strategy/marketing/fastron-jagoan-oli-dari-pertamina-lubricants
Swa-online, 29 September 2014.Pertamina Lubricants menuju Top 15 Perusahaan Pelumas Kelas Dunia.http://swa.co.id/business-strategy/marketing/pertamina-lubricants-menuju-top-15--perusahaan-pelumas-kelas-dunia.
Widodo, Kusdi. 2015.Integrasi Ke Hulu Untuk Meningkatkan Daya Saing Bisnis Pelumas PT. Total Oil Indonesia.S2 Manajemen UGM.Yogyakarta.. http://etd.repository.ugm. ac.id/ index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ= html &buku_id=80544&obyek_id=4
Wordpress.com, 10 Juni 2008. Babak Baru Persaingan Bisnis Pelumas. https://turyanto. wordpress.com/2008/06/10/babak-baru-persaingan-bisnis-pelumas/
www.castrol.com, diakses 29 September 2015
www.pertamina.com, diakses 29 September 2015

SindoNews.com, 22/09/2014. Shell Kenalkan Teknologi Industri Pelumas Baru. http://autotekno.sindonews.com/read/903883/120/shell-kenalkan-teknologi-industri-pelumas-baru-1411361803, diakses 26 September 2015

1 komentar: