Take Home Final Exam
EKONOMI
MANAJERIAL LANJUT
Dosen: Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec
Structure
Conduct Performance Analysis
INDUSTRI MINYAK PELUMAS DI INDONESIA
Oleh:
Eko Subowo
NIM. P. 066140603.10DM

PROGRAM DOKTOR MANAJEMEN DAN BISNIS
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
30 September 2015
STRUCTURE
CONDUCT PERFORMANCE ANALYSIS
INDUSTRI MINYAK PELUMAS DI INDONESIA
Oleh : Eko Subowo
1.
PENDAHULUAN
a.
Regulasi
Sampai dengan era tahun 1990-an, pasar pelumas di
Indonesia merupakan pasar monopoli yang dikuasi oleh Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yaitu PT. Pertamina. Peraturan yang mendasari tata niga minyak pelumas pada
saat itu adalah Keppres Nomor 18 Tahun 1988 tentang Penyediaan dan Pelayanan
Pelumas serta Penanganan Oli Bekas. Berdasarkan Keppres tersebut PT. Pertamina
diberikan hak monopoli dalam perdagangan pelumas dalam negeri, sementara pihak
swasta yang ingin membuka usaha di industri minyak pelumas diharuskan
bekerjasama dengan PT. Pertamina dan hanya
diberikan kesempatan dalam bisnis pelumas sintetis. Pada masa itu, PT Pertamina
yang merupakan BUMN tersebut mengusai hampir 90% pangsa pasar pelumas di
Indonesia (Republika online, 2015).
Pasar monopoli tersebut berlangsung hampir 15 tahun
lamanya, hingga pada tanggal 5 Maret
2000 pemerintah mulai memberlakukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Menindaklanjuti Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1999 tersebut, Pemerintah kemudian menerbitkan Keppres Nomor 21
Tahun 2001 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas untuk menggantikan Keppres
Nomor 18 Tahun 1988. Kebijakan yang tertuang di dalam Keppres Nomor 21 Tahun
2001 pada prinsipnya mengatur ulang (deregulasi)
perdagangan pelumas yang semula bersifat monopolistis oleh PT. Pertamina menjadi terbuka dalam arti tidak monopolistis
lagi.
Semenjak pemerintah menghilangkan hambatan yang
disebabkan monopoli Pertamina, pasar
pelumas nasional menjadi pasar yang terbuka bagi setiap pelaku usaha, baik bagi
pelaku usaha domestik maupun asing. Ketika itu banyak pengusaha pelumas asing yang
masuk ke pasar pelumas Indonesia bertindak baik sebagai pedagang dan distributor, ataupun
sebagai produsen yang membuat pabrik pelumas sendiri dengan lisensi asing (misalnya
PT Wiraswasta Gemilang Indonesia dengan lisensi Penzoil). Akibatnya penguasaan
Pertamina terhadap pangsa pasar pelumas nasional tergerus. Ketika itu banyak
pihak memperkirakan pangsa pasar pelumas Pertamina akan merosot sangat tajam
akibat persaingan bebas dari dalam maupun luar negeri. Namun demikian, perkiraan tersebut tidak
terbukti karena kenyataanya pangsa pasar minyak pelumas nasional terendah
Pertamina masih berada pada angka 53% pada tahun 2003 (Case Center Dept. Management FE-UI, 2000) . Hal ini diduga
penyebabnya adalah kuatnya brand image
dan penguasaan bahan baku pelumas yang dimiliki oleh PT. Pertamina selaku
produsen minyak dan gas di dalam negeri.
b.
Pemahaman
Umum Minyak Pelumas (Lubricants Oil)
Minyak pelumas (lubricant
oil) atau yang lebih populer disebut oli, dapat didefinisikan sebagai suatu
zat yang berada atau di sisipan di antara dua permukaan yang bergerak secara
relatif agar dapat mengurangi gesekan antar permukaan tersebut. Oli adalah
penopang utama dari kerja sebuah mesin. Bukan itu saja, bahkan oli juga
menentukan performa dan daya tahan mesin. Semakin baik kualitas oli yang
digunakan, semakin baik pula performa dan daya tahan mesin. Fungsi oli bukan
hanya sebagai pelumas saja, melainkan juga sebagai pendingin dan pembersih
mesin. Sebagai pelumas, oli melumasi (lubricating)
seluruh komponen yang bergerak di dalam mesin untuk mencegah terjadinya kontak
langsung antar-komponen yang terbuat dari logam. Dalam hal ini, unsur
kekentalan (viskositas) sangat
penting (Kusumah, 2013).
Ada dua jenis minyak pelumas, yakni mineral dan
sintetis. Pelumas mineral adalah campuran antara minyak bumi yang ditambah zat
aditif. Pelumas mineral baik digunakan untuk mesin-mesin diesel otomotif,
kapal, dan industri. Sedangkan yang sintetis adalah minyak bumi yang melalui
proses kimiawi diubah menjadi bahan sintetis. Bahan sintetis daya tahannya
terhadap panas lebih tinggi sehingga oli tidak mudah rusak dan tahan lebih lama
terhadap oksidasi. Oleh sebab itu, harga oli sintesis lebih mahal daripada oli
mineral. Pelumas sintetis baik digunakan untuk mesin otomotif non diesel.
Kualitas pelumas
yang baik tidak hanya didapatkan dengan proses pengolahan maupun pemurnian
(purifikasi), tetapi perlu ditambahkan bahan-bahan kimia tertentu yang lebih
dikenal dengan aditif. Aditif yang ditambahkan ke dalam minyak pelumas
bertujuan untuk memperbaiki kualitas minyak pelumas. Penambahan aditif dalam
minyak pelumas ini berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi, temperatur, dan
kerja dari mesin itu sendiri. Oleh karena itu jenis-jenis minyak pelumas yang
kita temukan di pasaran berbeda-beda. Penambahan aditif ke dalam minyak pelumas
bukan perkara mudah karena minyak pelumas akan bereaksi dengan aditif tersebut,
dan juga aditif tersebut akan mempengaruhi aditif lainnya. Oleh karena itu,
formulasi penambahan aditif terus dilakukan untuk mendapatkan minyak pelumas
kualitas tinggi.
Minyak pelumas memiliki elemen-elemen yang penting
yaitu :
1)
Viscosity.
Viscosity atau kekentalan suatu minyak pelumas adalah
pengukuran dari mengalirnya bahan cair dari minyak pelumas, dihitung dala ukuran
standard. Makin besar perlawananya untuk mengalir, berarti makin tinggi viscosity-nya, begitu juga sebaliknya. Viscosity atau kekentalan minyak pelumas
dinyatakan dalam nomor-nomor SAE (Society
of Automotive Engineer). Angka SAE yang lebih besar menunjukkan minyak
pelumas yang lebih kental. Ada dua jenis oli berdasarkan kekentalannya yaitu
oli monograde dan oli multigrade. Oli monograde adalah oli yang indeks
kekentalannya dinyatakan hanya satu angka, sedangkan oli multigrade yaitu oli
yang indeks kekentalannya dinyatakan dalam lebih dari satu angka.
2)
Flash Point. Flash
point atau titik nyala
merupakan suhu terendah pada waktu minyak pelumas menyala seketika. Pengukuran
titik nyala ini menggunakan alat-alat yang standard, tetapi metodenya berlainan
tergantung dari produk yang diukur titik nyalanya.
3)
Pour Point. Merupakan suhu terendah dimana suatu cairan mulai tidak bisa mengalir
dan kemudian menjadi beku. Pour point perlu diketahui untuk
minyak pelumas yang dalam pemakaiannya mencapai suhu yang dingin atau bekerja
pada lingkungan udara yang dingin.
4)
Total Base Number (TBN). Menunjukkan tinggi rendahnya ketahanan minyak pelumas
terhadap pengaruh pengasaman, biasanya pada minyak pelumas baru (fresh oil).
Setelah minyak pelumas tersebut dipakai dalam jangka waktu tertentu, maka nilai
TBN ini akan menurun. Untuk mesin bensin atau diesel, penurunan TBN ini tidak
boleh sedemikian rupa hingga kurang dari 1, lebih baik diganti dengan
minyak pelumas baru, karena ketahanan dari minyak pelumas tersebut sudah tidak
ada.
5)
Carbon Residue. Merupakan jenis persentasi karbon yang mengendap apabila oli diuapkan
pada suatu tes khusus.
6)
Density.
Menyatakan
berat jenis oli pelumas pada kondisi dan temperature tertentu. (wordpress.com, 2009)
Dengan
memperbandingkan kualitas elemen-elemen yang terkandung dalam produk minyak
pelumas, produsen dan konsumen secara
bersama-sama menemukan pemahaman yang sama mengenai kualitas dan kecocokan
produk pelumas dengan kebutuhan konsumen dan tingkat harga sesuai daya belinya.
c.
Penggunaan
Pelumas dalam Pasar Otomotif dan Industri
Minyak pelumas
digunakan dalam dunia otomotif dan industri. Saat ini penggunaan pelumas nasional
semakin meningkat dikarenakan berkembangnya kegiatan industri (pabrik, tambang,
dll) dan semakin tingginya pertumbuhan pasar kendaraan bermotor di Indonesia
setiap tahunnya yang terus mengalami peningkatan sejak tahun 2008. Pada tahun
2013, jumlah kendaraan bermotor (mobil penumpang, mobil bis, mobil barang dan
sepeda motor) di Indonesia mencapai 104.118.969 Unit (BPS, 2013). Jumlah
kendaraan bermotor tersebut mengalami kenaikan yang cukup besar dibandingkan
tahun 2012 yaitu 94.373.324 Unit. Perkembangan itu dapat digambarkan dalan
Tabel di bawah ini.
Tabel
1 Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut
Jenisnya (2008-2013)
|
Tahun
|
Mobil Penumpang
|
Mobil Bis
|
Mobil Barang
|
Sepeda Motor
|
Jumlah Kendaraan Bermotor
|
|
2008
|
7,489,852
|
2,059,187
|
4,452,343
|
47,683,681
|
61,685,063
|
|
2009
|
7,910,407
|
2,160,973
|
4,498,171
|
52,767,093
|
67,336,644
|
|
2010
|
8,891,041
|
2,250,109
|
4,687,789
|
61,078,188
|
76,907,127
|
|
2011
|
9,548,866
|
2,254,406
|
4,958,738
|
68,839,341
|
85,601,351
|
|
2012
|
10,432,259
|
2,273,821
|
5,286,061
|
76,381,183
|
94,373,324
|
|
2013
|
11,484,514
|
2,286,309
|
5,615,494
|
84,732,652
|
104,118,969
|
Sumber
: Badan Pusat Statistik, 2013
Jumlah kendaraan bermotor pada tahun
2013 didominasi oleh sepeda motor dan
mobil penumpang yang merupakan 92% dari total keseluruhan kendaraan bermotor
pada tahun 2013 tersebut. Bangkitnya industri otomotif di Indonesia memberikan
efek multiplier yang cukup besar,
salah satu dampaknya adalah peningkatan kebutuhan akan pelumas kendaraan
bermotor. Peningkatan kebutuhan tersebut menjadi kesempatan yang baik bagi
perusahaan pelumas untuk memperluas pangsa pasarnya. Saat ini lebih dari 40
perusahaan dengan lebih dari 250 merek pelumas untuk otomotif maupun untuk industry
memasarkan produknya di Indonesia. Beberapa perusahaan tersebut tercantum pada
Tabel 2.
Tabel
2 Perusahaan yang Meramaikan Pasar Pelumas Nasional
|
No.
|
Perusahaan
|
Merek Pelumas
|
|
1.
|
PT Atlas Petro
|
Idemitsu
|
|
2.
|
PT Astra
Komponen Indonesia
|
Maxima
|
|
3.
|
PT Agip
Lubrindo Pratama
|
Agip, Agip 2T
Plus, Agip 4T Supra
|
|
4.
|
PT Bersama Eka
|
F1
|
|
5.
|
PT Borobudur
Agung
|
BP, Vistra
|
|
6.
|
PT Castrol
Indonesia
|
Castrol
|
|
7.
|
PT Citra
Makmur Sekata
|
Motul
|
|
8.
|
PT Dirga
Sarana Buana
|
Valvoline,
Fuji, Union
|
|
9.
|
PT Fuch
Indonesia
|
Titan
|
|
10.
|
PT Harapan
Sakti
|
Bertdal
|
|
11.
|
PT Indo Sarana
|
Seiken
|
|
12.
|
PT Indo Trans
|
Trust
|
|
13.
|
PT Indocitra
Sugiro
|
Indomobil
|
|
14.
|
PT Nusaraya
Agung
|
Reeder,
Penlube
|
|
15.
|
PT Petronas
Niaga Indonesia
|
Syntium
|
|
16.
|
PT Shell
Indonesia
|
Shell Helix
|
|
17.
|
PT Sukabumi
Trading
|
Repsol
|
|
18.
|
PT Topindo
Atlas Asia
|
TOP-1
|
|
19.
|
PT Pertamina
Lubricant
|
Mesran, Prima
XP, Mediteran, Fastron dll
|
|
20.
|
PT Wiraswasta
Gemilang Indonesia
|
Pennzoil,
Evalube, Molytex
|
Sumber : SWA Online (2006)
2.
ANALISIS
STRUCTURE CONDUCTS PERFORMANCE (SCP)
Teori-teori yang
terdapat dalam ekonomi industri menekankan pada studi empiris dari
faktor-faktor yang mempengaruhi struktur pasar (structure), perilaku (conduct),
dan kinerja (performance) sehingga
tercapai tingkat efisiensi bagi perusahaan, industri, serta perekonomian
nasional secara keseluruhan (Jaya, 2001). SCP,
mengikuti pendapat The Feedback Critique, adalah kinerja
ekonomi suatu industri yaitu suatu fungsi dari perilaku pembeli dan penjual
yang selanjutnya berdampak pula pada fungsi struktur industri (Baye&Prince,
2013). Kinerja ekonomi diukur dengan
derajat maksimalisasi kesejahteraan. Perilaku mengacu pada aktivitas penjual
dan pembeli dalam industri. Aktivitas penjual meliputi pemanfaatan dan
instalasi kapasitas, kebijakan promosi harga, riset dan pengembangan atau
kerjasama antar perusahaan (Sri Adiningsih, 2006).
a.
Struktur
(Structure)
Struktur industri dapat dilihat berdasarkan jumlah pelaku
dan pangsa pasarnya yang menentukan market
conduct atau perilaku perusahaan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi
kinerja perusahaan. Semakin banyak jumlah penjual maka persaingan akan
meningkat, sehingga keuntungan akan menurun. Sementara itu derajat dari
diferensiasi produk, pengetahuan penjual dan pembeli mengenai produknya serta
adanya hambatan untuk masuk pasar akan mempengaruhi kekuatan penjual di pasar. Meskipun
demikian biasanya dalam literatur sering digunakan Concentration Ratio (CR) dan Herfindahl
Hirschman Index (HHI) untuk mengukur konstrasi pasar. Rasio konsentrasi
atau Concentration Ratio (CR) berkisar
antara 0 sampai dengan 100%, dimana 0% berarti kompetisi penuh. Sebagai contoh
jika
= 0% berarti 4 perusahaan
terbesar dalam industri tidak mempunyai pangsa pasar yang signifikan.
=50-80% menunjukkan bahwa
struktur industri tersebut bersifat oligopoly, dan apabila
100% maka oligopoli yang
sangat terkonsentrasi. Kemudian jika
=100% berarti struktur
pasarnya monopoli penuh. Pengukuran Consentration
Ratio tidak memperhitungkan seluruh pangsa pasar perusahaan dalam industri dan
tidak menunjukkan distribusi dari ukuran perusahaan secara keseluruhan. Rasio
konsentrasi hanya memberikan petunjuk derajat kompetisi dan sifat oligopolistik
dalam sebuah industri. Secara matematis
CR dapat dihitung menggunakan formula sebagai berikut:
Sehingga,
=
+
+ …… + 
Dimana
adalah pangsa pasar dan m adalah perusahaan ke m.
Berbeda dengan CR, Herfindahl-Hirschman
Index (HHI) memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai konsentrasi
rasio dalam sebuah industri. Herfindahl
Hirschman Index (HHI) adalah ukuran besar kecilnya perusahaan dalam sebuah
industri yang sekaligus merupakan indikator kompetisi diantara
perusahaan-perusahaan tersebut. HHI didefinisikan sebagai jumlah kuadrat dari
pangsa pasar masing-masing perusahaan dalam industri. Untuk menghindarkan
pecahan, nilai tersebut dikalikan dengan angka 10.000. Biasanya nilai HHI terletak
antara 0 sampai dengan 10.000. Nilai HHI 10.000 terjadi ketika dalam suatu industri
terdapat satu perusahaan; dan nilai HHI=0 terjadi ketika terdapat banyak sekali
perusahaan-perusahaan kecil di dalam industri. Menurut klasifikasi Horizontal Merger Guidelines yang
diterbitkan Federal Trade Commision (FTC) dan Antitrust Division of U.S. Department of Justice (DOJ) dijelaskan bahwa nilai HHI<100
menunjukkan derajat kompetisi yang tinggi antar perusahaan-perusahaan yang
bergerak dalam suatu industri.
Selanjutnya 100<HHI<1500
menunjukkan derajat kompetisi industri yang tidak terkonsentrasi, dan 1500<HHI<2500
menunjukkan derajat konsentrasi moderat antar perusahaan dalam industri yang
bersangkutan. Apabila telah melebihi
angka 2500 (HHI>2500), maka hal ini mengindikasikan adanya derajat konsentrasi yang tinggi dalam industri
yang bersangkutan. Derajat konsentrasi yang tinggi berarti dalam pasar hanya
ada beberapa perusahaan saja yang menguasai pangsa pasar yang besar. Secara matematis
HHI dapat dihitung menggunakan formula sebagai berikut:
HHI =
,
Dimana,
Si = Jumlah pangsa pasar
dari perusahaan i
n = jumlah perusahaan
yang ada dipasar
Berikut ini tabel tipe-tipe pasar berdasarkan kondisi
utamanya.
Tabel
3 Tipe-tipe Pasar Berdasarkan Kondisi Utama
|
Ciri-ciri
|
Monopoli
|
Perusahaan Dominan
|
Oligopoli
|
Persaingan Monopolistik
|
Persaingan Sempurna
|
|
Kondisi Utama
|
Memiliki 100% pangsa pasar
|
Menguasai 50-100% pangsa pasar tanpa pesaing ketat
|
Gabungan beberapa perusahaan terkemuka yang pangsa pasarnya
60-100%
|
Banyak pesaing yang efektif, tidak satupun memiliki lebih dari
10% pangsa pasar
|
Lebih dari 50 pesaing yang tidak satupun memiliki pangsa pasar
yang berarti
|
|
HHI
(tidak dikalikan 10000)
|
HHI=1
|
0.21<HHI<1
|
0.01<HHI<0.18
|
0.01<HHI<0.1
|
HHI<0.01
|
|
Jumlah Prosedur
|
Satu
|
Banyak
|
Sedikit
|
Banyak
|
Sangat Banyak
|
|
Entry/Exit Barrier
|
Sangat Tinggi
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Rendah
|
Sangat Rendah
|
|
Tipe Produk
|
Heterogen
|
Heterogen
|
Homogen dan Heterogen
|
Heterogen
|
Homogen
|
|
Kekuasaan Menentukan Harga
|
Sangat Besar
|
Relatif
|
Relatif
|
Sedikit
|
Tidak Ada
|
|
Persaingan selain harga
|
Tidak Ada
|
Besar
|
Besar
|
Besar
|
Tidak Ada
|
|
Informasi
|
Sangat Terbatas
|
Cukup Terbuka
|
Terbatas
|
Cukup Terbuka
|
Terbuka
|
|
Profil
|
Berlebih
|
Berlebih
|
Agak Berlebih
|
Normal
|
Normal
|
|
Efisiensi
|
Kurang
|
Kurang
|
Kurang
|
Cukup
|
Baik
|
Sumber : Media Ekonomi Vol
18, No. 3, 2010
Menurut
Menteri Perindustrian Saleh Husein, potensi pasar pelumas dalam negeri tahun
2015 ini sebesar 850 ribu kiloliter per tahun (Republika online, 24/01/ 2015),
naik sebesar 150 ribu kiloliter sejak tahun 2010. Konsumsi tersebut sudah
termasuk pelumas industri dan otomotif ; dengan rincian 450 ribu kiloliter
untuk otomotif dan sisanya adalah untuk industri. Pelumas otomotif dibagi dua
yaitu sepeda motor dan mobil. Sedangkan pelumas untuk sepeda motor dibagi lagi
menjadi 2 Tak dan 4 Tak, dengan total market 225 ribu kiloliter per tahun dan 20%-nya
merupakan motor matic (motorotomotif.net.com, 2011).
Di Indonesia terdapat sekitar 250 merek pelumas baik
lokal maupun asing, yang beredar di pasar dalam negeri. Berbagai merek global
pun ikut bersaing seperti Shell, Castrol Power1, Motul, Top One, BM1, Fucsh,
Agip, Syntium, Adnoc, Valvoline, Krieger, Mobil, Chevron, Total, dan Idemitsu
dari Jepang. Sedangkan swasta nasional yang meramaikan bisnis ini yaitu
Evalube, Penlube, CGI, Fuji, dan United. Meskipun pasar kendaraan bermotor di
dalam negeri didominasi produk-produk Jepang, namun pelumas produk jepang
seperti Nippon Oil dan Idemitsu relatif lebih berkonsentrasi ke mesin-mesin
berat. Industri otomotif Jepang di Indonesia justru cenderung menggunakan
produk-produk pelumas lokal sebagai oli resmi kendaraan produknya. Honda
misalnya, merekomendasikan pelumas Federal (produk Pertamina) sebagai oli resmi
sepeda motor Honda.
Berikut ini 9 perusahaan pelumas yang memiliki pangsa pasar di
Indonesia pada tahun 2012.
Tabel
4 Pangsa Pasar Perusahaan Pelumas di Indonesia
|
No.
|
Nama Perusahaan
|
% Pangsa Pasar
|
(Ribu ton/tahun)
|
|
100.00%
|
620
|
||
|
1.
|
Pertamina
|
61.50%
|
381
|
|
2.
|
Shell
|
9.70%
|
60
|
|
3.
|
BP (Castrol)
|
6.30%
|
39
|
|
4.
|
Idemitsu
|
6.00%
|
37
|
|
5.
|
Top 1
|
4.80%
|
30
|
|
6.
|
Total
|
2.90%
|
18
|
|
7.
|
Chevron
|
2.30%
|
14
|
|
8.
|
WGI (Evalube)
|
1.90%
|
12
|
|
9.
|
JX Nippon Oil & Energy
|
1.20%
|
7
|
Sumber
: PFC Energy, 2012
Berdasarkan
tabel 4 di atas tampak bahwa berdasarkan data tahun 2012, PT Pertamina masih
menguasi pasar sebesar 61.5% pasar pelumas nasional, kemudian disusul oleh Shell
sebesar 9.7%, BP (Castrol) 6.30%, pelumas Jepang Idemitsu dan Nippon Oil &
Energy masing-masing sebesar 6% dan 1.2%. Pada pertengahan tahun 2015,
Pertamina mengusai pangsa pasar sebesar 56,87%, angka tersebut merupakan angka
yang cukup tinggi karena best practice
di negara lain kebanyakan market leader
hanya mampu mencapai pangsa pasar sebesar 30%. Salah satu cara menjaga pangsa
pasar adalah dengan bergabung ke global
supply chain dan juga menggandeng technical
partner (CNN Indonesia, 2015).
Untuk
melihat struktur industry minyak pelumas di Indonesia, maka dilakukan
penghitungan CR-4 dan HHI dengan menggunakan formula di atas dan menggunakan data
tersebut pada table 4, dan hasilnya disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel
5 Pangsa Pasar Industri Pelumas Nasional, 2012
|
No.
|
Nama Perusahaan
|
Pangsa Pasar
|
|
|
1.
|
Pertamina Lubricants
|
0.615
|
0.37823
|
|
2.
|
Shell
|
0.097
|
0.00941
|
|
3.
|
BP (Castrol)
|
0.063
|
0.00397
|
|
4
|
Idemitsu
|
0.060
|
0.0036
|
|
5.
|
Top 1
|
0.048
|
0.0023
|
|
6.
|
Total
|
0.029
|
0.00084
|
|
7.
|
Chevron
|
0.023
|
0.00053
|
|
8.
|
WGI (Evalube)
|
0.019
|
0.00036
|
|
9.
|
JX Nippon Oil & Energy
|
0.012
|
0.00014
|
|
10.
|
Lainnya
|
0.034
|
0.00116
|
|
|
|
|
HHI = 4005
|
Sumber
: FPC Energy, 2012 diolah.
Dengan
melihat data-data di atas nampak bahwa konsentrasi pasar pelumas oli di
Indonesia pada 4 (empat) teratas dikuasai oleh produk-produk Pertamina
Lubricants, Shell, BP (Castrol) dan Idemitsu. Nilai
hasil perhitungan sebesar 0.835 menunjukkan
bahwa sebesar 83.5% pangsa pasar minyak pelumas nasional dikuasai oleh empat
perusahaan tersebut. Sedangkan HHI sebesar 4005 menunjukkan bahwa derajat
konsentrasi industri pelumas di Indonesia tinggi berciri pasar oligopoli,
dengan market leader adalah PT
Pertamina Lubricants.
b.
Perilaku (Conduct)
Diketahui bahwa struktur pasar biasanya akan
mempengaruhi perilaku pelaku pasar. Perilaku pasar (conduct) adalah perilaku suatu perusahaan dalam menghadapi
persaingan dalam harga, tingkat produksi, kualitas produk dan promosi, research
and development, merger dan akuisisi serta penerapan teknologi baru dan
inovasi. Dalam hal ini, industri minyak pelumas di Indonesia yang termasuk
pasar oligopoli menimbulkan persaingan
karena semakin banyaknya pelaku usaha yang menawarkan produk pelumas dengan kualitas
yang bagus dan harga bersaing, sehingga
konsumen memiliki beragam pilihan.
Melihat banyaknya produk yang ditawarkan
untuk konsumen dalam indutri pelumas oli di Indonesia, memaksa para pelaku
usaha untuk memiliki rencana strategis guna menguasai dan bertahan dalam pangsa
pasar pelumas oli di Indonesia. Jika sebuah perusahaan dalam industri yang
bersifat oligopoli merubah perilakunya maka perusahaan lain akan memperoleh
insentif dari kesempatannya bereaksi terhadap perilaku perusahaan tersebut.
Jadi rencana strategis sebuah perusahaan dalam pasar oligopoli tergantung pada
harapan perusahaan tersebut mengenai bagaimana perusahaan pesaingnya akan
bereaksi, jika rencana strategi tersebut diterapkan. Karakteristik utamanya
adalah ketergantungan timbal balik antar perusahaan-perusahaan dalam industri
tersebut. Oleh sebab itu, maka rencana-rencana strategis yang dilakukan oleh
Pertamina Lubricants sebagai market
leader, harus mempertimbangkan pula kemungkinan reaksi dari perusahaan lain
seperti Shell dan Castrol, dan begitu pula sebaliknya; sehingga memerlukan
antisipasi yang cukup sulit dalam mengelola perusahaan dalam pasar oligopoly
semacam ini.
Dari data yang diperoleh melalui open source,
beberapa strategi yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut antara
lain sebagai berikut:
1)
Strategi
Penetapan Harga (Pricing)
Penentuan harga pada pasar oligopoli biasanya sangat
dipengaruhi oleh positioning price dari
market leader. Dalam hal ini, harga
yang ditetapkan oleh Pertamina Lubricant sebagai
market leader biasanya menjadi bahan
rujukan bagi produsen pelumas lainnya. Pesaing Pertamina Lubricant akan berani menetapkan harga yang lebih mahal, jika
mereka yakin produk yang ditawarkan mempunyai spesifikasi yang khusus dan lebih
unggul dari produk Pertamina serta ditargetkan secara khusus pula untuk segmen
pasar tertentu. Dalam menetapkan harga Pertamina menentukan harga yang relative
tinggi pada produk-produk pelumas otomotif premium, dan hal ini juga diikuti
oleh misalnya Castrol Sintetik dan Shell Oil Advance Ultra 4T yang merasa
percaya diri dengan klaim bahwa
produknya mempunyai unggulan tertentu. Penetapan
harga pada pasar industry tidak terlalu tampak terbuka, karena biasanya
pemasaran dilakukan secara dor-to-dor
dengan pendekatan perusahaan langsung kepada user. Namun demikian, sebagaimana
tampak dalam ilustrasi table berikut ini disajikan daftar harga pelumas
otomotif tahun 2015, tidak jauh berbeda satu sama lain.
Tabel
6 Daftar Harga Produk Minyak Pelumas 2015
|
Perusahaan
|
Produk
|
Harga
|
|
Pertamina
|
Fastron 0W-50
|
140,000
|
|
Fastron
10W-30
|
60,000
|
|
|
Fastron
10W-40
|
52,000
|
|
|
Fastron
20W-40
|
44,000
|
|
|
Enduro 4T
racing
|
38,000
|
|
|
Prima XP
10W-40
|
37,500
|
|
|
Prima XP
20W-50
|
32,500
|
|
|
Enduro 4T
|
31,000
|
|
|
Mesran Super
20W-50
|
26,500
|
|
|
Mesran 40
|
23,000
|
|
|
Shell
|
Shell Oil
Advance ultra 4T
|
160,000
|
|
Shell Oil
Advance VSX 4T
|
45,000
|
|
|
Shell Oil
Advance SX 4T
|
25,000
|
|
|
Shell Oil
Advance SX 2T
|
24,500
|
|
|
Shell Oil
Advance S 4T
|
23,500
|
|
|
Citra Makmur Sekata
|
Motul 5100
ester 4T
|
85,000
|
|
Motul 510
power lube 2T
|
75,000
|
|
|
Motul 3100
gold 4T
|
45,000
|
|
|
Astra Honda
Motor
|
AHM MPX 4AT
|
32,000
|
|
AHM MPX 4T
|
29,000
|
|
|
Castrol
Indonesia
|
Castrol Oil Active 2T
|
31,500
|
|
Castrol Oil Power 1 4T
|
26,500
|
|
|
Castrol Oil
Active extra 4T
|
26,000
|
|
|
Yamaha
|
Yamalube Gold
4T
|
29,000
|
|
Yamalube
Matic
|
27,000
|
|
|
Yamalube
Silver 4T
|
26,000
|
|
|
Yamalube Gear
|
9,000
|
|
|
Topindo Atlas
Asia
|
Top 1 oil
Action matic 10W-30
|
27,000
|
|
Top 1 oil
Action plus
|
26,500
|
|
|
Top 1 oil
Action matic 20W-40
|
26,000
|
|
|
Top 1 Oil SMO MC 4T
|
25,000
|
|
|
Sukabumi Trading
|
Repsol Oil
Moto 4T
|
25,000
|
|
Repsol Oil
Moto super 4T
|
23,500
|
|
|
Federal
Karyatama
|
Federal Oil Supreme xx 4T
|
85,000
|
|
Federal Oil
Ultratec 4T
|
21,000
|
|
|
WGI
|
Evalube Pro
syn 4T
|
22,000
|
Sember: Published Price List Aneka Produk Pelumas
2015, diolah.
Berdasarkan data tabel di atas dapat dilihat
bahwa harga-harga dari produk pelumas yang ditawarkan perusahaan hampir
mendekati satu sama lain, yang membedakan adalah variasi produk-produknya.
Misalnya adalah Pertamina memiliki banyak variasi produk karena segmentasi
pasarnya tidak hanya untuk otomotif (mobil dan motor 2T dan 4T), namun
bekerjasama dengan perusahaan BUMN seperti PT KAI, PT Pelni, Industri
Pertambangan, dan Kontruksi alat-alat berat. Untuk jenis-jenis pelumas yang
lain, harga produk Pertamina sedikit lebih mahal dari produk pesaing, namun
dari sisi kualitas biasanya pertamina menentukan standar sesuai dengan
ketentuan ambang tengah keatas yang mengacu pada standar API-SN (standarisasi
yang dikeluarkan oleh American Petrolium
Institute). Sedangkan untuk segmen pasar elastis seperti sepeda motor dan
angkutan umum, Pertamina men set-up produknya mengikuti standard ambang bawah
dengan harga yang lebih murah daripada produk pesaing (SWA online, September
2014).
2)
Strategi
Pemasaran (Marketing)
Suatu perusahaan selalu mempunyai cara dalam
memasarkan produknya, diantaranya melalui above
the line atau below the line. Above
the line yaitu pemasaran yang dilakukan perusahaan melalui iklan TV atau
media massa, sedangkan promosi below the
line adalah strategi pemasaran yang lebih mengutamakan loyalty konsumen melalui SPG atau SPB, memberikan hadiah-hadiah dan
bonus bagi konsumen maupun pedagang, melakukan campaign dan coaching clinic,
membuat event, mensponsori balapan
MotoGP, mensponsori mudik lebaran dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan oleh
pemain pasar minyak pelumas di Indonesia untuk menarik perhatian konsumsen agar
membeli produknya.
PT.
Pertamina Lubricant.
PT Pertamina Lubricant melakukan pemasaran
produk-produknya untuk segmen pasar luar negeri maupun dalam negeri. Tujuan
utamanya paling tidak untuk mempertahankan pangsa pasar yang telah diraihnya. Untuk
dalam negeri tujuannya adalah membuat brand
milik pertamina menjadi leading
dibanding brand-brand lain baik
produk lokal maupun impor. Sementara untuk luar negeri melakukan sosialisasi untuk penetrasi pasar ASEAN,
Australia dan lainnya dalam tahapan membangkitkan brand awareness terhadap pasar internasional. Tujuannya disamping
memperluas pasar di luar negeri juga untuk memperkuat image di dalam negeri. Apabila merek Pertamina dikenal di luar
negeri biasanya konsumen di dalam negeri akan lebih menghormati lagi, karena mindset budaya masyarakat Indonesia yang
cenderung “luar negeri minded”. Dalam
menyesar pasar luar negeri Pertamina Lubricant turut mensponsori pembalap Rio Haryanto di GP2, Rifat Sungkar
dan Alexandra Asma Soebrata di rally yang diharapkan dapat membesarkan nama brand baik untuk segmen pasar luar
negeri maupun segmen pasar dalam negeri (SWA-Online, 29/11/2015). Cara
lain untuk menjaga pangsa pasar yaitu dengan bergabung ke global supply chain dan juga menggandeng technical partner yaitu Lambhorgini yang logonya
kemudian dapat dipasang di kemasan. Kerjasama dengan pabrikan otomotif asal
Italia ini akan berlangsung selama empat tahun dari 2015 hingga 2019, dimana
Pertamina Lubricants juga akan menyediakan pelumas bagi kegiatan otomotif Lamborghini.
Selain itu, Pertamina Fastron juga dipercaya sebagai pelumas utama di 129 diler
Lamborghini di seluruh dunia. Kerjasama ini membuktikan kualitas pelumas
Pertamina, dan sdiharapkan berpengaruh juga kepada kinerja marketing baik dalam
negeri dan luar negeri, dan pengaruh juga ke market
share (CNN Indonesia-Online, 28/08/2015).
Untuk pemasaran, Pertamina Lubricant
memiliki keunggulan melalui 5.200 SPBU yang dimiliki Pertamina yang tersebar
secara nasional, disamping melalui bengkel-bengkel, dan retailer lainnya (SWA-Online, 29/11/2014).
Pelumas Pertamina juga dipasarkan melalui outlet khusus yang disebut Pertamina Olimart yang melayani penjualan dan
sekaligus servis penggantian pelumas otomotif. Agen pelumas juga digunakan
untuk oli otomotif. Sedangkat untuk
segmen industry Pertamina Lubricant
memasarkannya langsung bangkan dengan insentif khusus bagi konsumen industri dengan
kebutuhan minimal 20 kiloliter/bulan (www.pertamina.com).
Shell.
Sejak ijin dibukanya
retailer bahan bakar minyak, Shell telah memiliki 70 lokasi SPBU di Jabodetabek,
Bandung dan Surabaya. Mengikuti jejak Pertamina melalui 5200 SPBU miliknya,
SPBU Shell tersebut juga digunakan sekaligus sebagai gerai untuk penjualan
pelumas Shell. Disamping itu strategi pemasaran dan distribusi yang dilakukan
oleh PT Shell Indonesia yaitu melakukan pemitraan strategis dengan PT Astra
Otopart Tbk dan memunculkan co-branding
Shell Astra. Beberapa produk yang diluncurkan misalnya Shell Helix AJ 10W-30
for Astra dan Shell Helix AJ 10W-40 masing-masing dalam kemasan 1 liter dan 4
liter. Pemasaran produk tersebut dilakukan dengan menggunakan jaringan ritel
otomotif modern yang dibangun oleh PT Astra Otopart yaitu Shop&Drive yang menyebar luas di Indonesia, khusunya di Pulau
Jawa dan Bali sementara dengan total 134 gerai pada tahun 2011 (SWA-Online,
11/10/2011).
Castrol.
Oli Castrol terlebih dahulu
di kenal di luar negeri daripada di Indonesia, dengan slogannya “Castrol: it’s more than just oil, it’s
liquid engineering”, perusahaan ini telah eksis lebih dari 100 tahun lalu
di UK dan Irlandia ( www.castrol.com,
29/09/2015). Untuk segmen oli otomotif Castrol membidik populasi skutik dengan
Castrol Power 1 yang diklaim mampu melindungi mesin pada gesekan rendah dan
suhu yang ekstra tinggi, serta memberikan 50% tingkat kebersihan serta dapat
mengurangi penumpukan s/d 70% di bagian mesin, sehingga mesin tetap bersih (SWA-Online,
10/09/2007).
Pelumas Castrol mulai
memasuki pasar Indonesia sejak 1970, dan mendirikan perusahaan PT Castrol
Indonesia pada 14 Mei 1998. Citra produk Castrol di Indonesia disebabkan oleh brand image dari luar negeri, sebagai
contoh dengan mensponsori rally
motoGP bersama Tim Honda yang sejauh ini telah mencatat kemenangan ke-500 bersama
MotoGP Honda. Selain itu, untuk segmen mobil, di ajang rally
Castrol menggandeng Tim Audi dan VW, serta balapan Truk Eropa FIA (FIA European Truck Racing Championship)
bersama-sama dengan MAN yang merupakan ajang pengujian terakhir bagi Castrol
untuk kendaraan komersial berat. Event-event
tersebut berhasil membawa brand image
di dalam negeri melalui strategi above
the line yang disiarkan dalam tayangan TV Sport yang dapat menjangkau tanah
air. Pemasaran pelumas Castrol sendiri dilakukan melalui ritel-ritel pelumas,
bengkel dan outlet-outlet lainnya (www.castrol.com/id_id/indonesia/sport).
Integrasi dan merger dewasa
ini dilakukan dengan teknik yang semakin inovatif untuk mengelabui regulator.
Bukan hanya vertical dan horizontal merger dalamarti harfiah dengan cara
mengakuisisi dan menggabung perusahaan lain, tetapi dengan teknik aliansi
strategis dalam kegiatan operasional dan pemasaran. Industri pelumas nasional
juga melakukan teknik semacam ini.
Pertamina Lubricant.
Untuk lebih memfokuskan diri mengembangkan bisnis minyak pelumas,
pada tahun 2013 PT Pertamina menyapih Unit Pelumas dari perusahaan induk Minyak
dan Gas dan menjadikannya sebagai entitas anak perusahaan tersendiri dengan
nama Pertamina Lubricants. Pembentukan anak perusahaan ini disertai dengan visi
dan misi baru serta target-target kinerja yang konkrit sehingga manajemen anak
perusahaan ini lebih focus dalam menghadapi gempuran pesaing yang makin besar.
Sebagai BUMN, Pertamina Lubricant memiliki keunggulan di
dalam membangun aliansi bisnis dengan BUMN lainnya. Dengan Induk perusahaannya,
yaitu Pertamina Oil & Gas, sudah barang tentu Pertamina Lubricant
diuntungkan dengan suplai bahan baku minyak bumi untuk bahan bakunya. Selain
karena telah lama memiliki pabrik dan memproduksi sendiri pelumas di dalam
negeri, Pertamina unggul karena bahan baku ini. Additive yang diperlukan juga bisa diperoleh dari supplier luar
negeri dengan bargaining posision
yang kuat karena pangsa yang besar di bidang pelumas otomotif dan industry di
Indonesia. Selain bahan baku, dari
perusahaan induk Pertamina Lubricant juga diuntungkan dengan bisa menumpang
pemasaran pelumas melalui SPBU Pertamina.
Bukan itu saja, Pertamina Lubricant juga menjalin aliansi
strategis dengan memenuhi kebutuhan aneka jenis pelumas bagi BUMN lainnya
seperti PT KAI, PT Garuda, PT Pelni, Aneka Tambang sampai dengan supply pelumas
bagi alat-alat berat BUMN konstruksi seperti Adhi Karya, Waskita Karya,
Pembangunan Perumahan dan lain-lain. Dalam hal ini, Pertamina Lubricant bukan saja
menyediakan pelumas saja tetapi juga menyediakan services belupa coaching on site clinic dengan
menyediakan ahlinya melakukan analisa dan pelumasn terhadap mesin-mesin mereka.
Shell.
PT Shell Indonesia melakukan
kemitraan strategis dengan PT Astra Otoparts Tbk dengan peluncuran pelumas co-branding untuk
menjawab kebutuhan pengguna kendaraan bermotor
melalui pelumas Shell-Astra.
Pelumas co-branding Shell-Astra
bertujuan untuk membangun kemitraan yang didasarkan atas kekuatan dan
keunggulan masing-masing di bidang pelumas (Shell) dan otomotif (Astra). Kemitraan
tersebut merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan portofolio yang kuat dalam
memberikan keunggulan produk, nilai, dan citra perusahaan.
Citra Astra sebagai pemimpin
pasar bisnis otomotif di Indonesia tentu menjadi daya tarik dan kekuatan untuk
meluncurkan produk-produk yang berhubungan dengan otomotif, dan Astra Otoparts
sebagai anak perusahaan Astra yang khusus memproduksi serta memasarkan komponen
otomotif serta produk turunannya dapat berkolaborasi dengan Shell Indonesia
untuk produk pelumas co-branding bagi
pasar otomotif Indonesia (SWA-Online, 11/10/ 2011).
Federal Oil-AHM Oil
PT Federal Karyatama sebagai produsen minyak
pelumas Federal Oil juga menerapkan strategi yang sama dengan Shell-Astra. Pelumas
yang diproduksi Federal Karyatama selalu diserap oleh motor dan mobil Honda.
Pada tahun 2009-2010 Federal Motor
berubah menjadi Astra Honda Motor (AHM), maka setelah itu AHM merilis oli merek
pelumas baru dengan nama AHM Oil.
Fenomena inipun diikuti oleh perusahaan pelumas
lainnya, seperti misalnya dirilisnya merek TMO (Toyota Motor Oil) yang dicitrakan
sebagai genuine oil for Toyota yang seolah-olah berarti bahwa jika konsumen
menggunakan kendaraan Toyota harus menggunakan Toyota Motor Oil. Termasuk dalam
jenis aliansi ini adalah Evalube beraliansi dengan Yamaha mengeluarkan produk
Yamaha-Lube
KPPU.
Aliansi strategis antara produsen
pelumas dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) jelas menimbulkan image yang sangat kuat dalam upaya
penguasaan pasar. Fenomena ini sempat diprotes masyarakat dan menjadi perhatian
KPPU. Selama ini bisnis minyak pelumas kendaraan bermotor baru disinyalir
dimonopoli oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Kendaraan yang masih dalam
masa garansi, jika memakai minyak pelumas non-ATPM, garansinya bisa hangus. ATPM
selalu ingin menguasai pasar, konsumen diarahkan menggunakan pelumas tertentu.
4)
Research and Development
Industri minyak pelumas adalah industry yang
sangat kaya kegiatan penelitian dan pengembangan. Berbagai penemuan baru
diklaim sebagai keunggulan merek-merek tertentu yang dimaksudkan untuk
mendongkak pangsa pasar untuk segmen pengguna yang spesifik.
Pertamina Fastron misalnya, mengeluarkan
produk seri baru secara berkala untuk tetap memelihara pangsa pasarnya. Melalui
laboratorium yang dimilikinya Pertamina Lubricant mengeluarkan biaya yang cukup
besar dalam inovasi produk, baik minyak pelumas mineral maupun sintetis.
Pada tahun 2014 misalnya, Shell mengeluarkan gebrakan
baru dalam teknologi industri pelumas
mobil, yang diberi nama Shell PurePlus
Technology. Teknologi ini dikembangkan melalui riset teknologi gas-to-liquid (GTL), yaitu mengubah gas
alam menjadi bahan dasar pelumas full sintetis. Shell PurePlus Technology adalah proses yang sangat revolusioner
dari teknologi gas ke carian. Teknologi ini berkembang pesat karena
kemampuannya mengolah gas alam, dalam menghasilkan bahan dasar sintetis yang lebih
baik (murni) kualitasnya dibandingkan dengan produk turunan minyak bumi (SindoNews.com,
22/09/2014).
c. Kinerja
Pasar (Performance)
Industri pelumas di dalam negeri saat ini melebihi kapasitas
hingga 47%. Kondisi ini terjadi karena produk pelumas impor membanjiri pasar
domestik. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, saat ini terdapat lebih
dari 20 pabrik pelumas atau Lube Oil Blending
Plant (LOBP) di Indonesia. Secara keseluruhan pabrik tersebut memiliki
kapasitas produksi mencapai 1,8 juta kiloliter per tahun dengan omzet sekitar
Rp 7 triliun. Sementara itu, potensi pasar pelumas dalam negeri hanya
sekitar 850 ribu kiloliter per tahun, sehingga terjadi kelebihan kapasitas pelumas
lokal sebesar 47%. Di saat produksi pelumas lokal melimpah, pasokan produk
pelumas impor meningkat hingga 50% dalam empat tahun terakhir. Pada tahun 2010,
produk pelumas impor kira-kira sebesar 200 ribu kiloliter yang kemudian
meningkat menjadi 300 ribu kilo liter pada 2013. Karena produksi pelumas yang
melimpah, industri pelumas harus melakukan ekspor terutama ke pasar Asia
Tenggara, Asia, dan Uni Eropa. Hal itu akan didukung dengan rencana pemerintah yang
menerapkan sejumlah kebijakan nontarif guna mengendalikan impor produk pelumas
dan mengamankan pasar dalam negeri. Kebijakan itu di antaranya, yakni penerapan
standar nasional Indonesia (SNI), program peningkatan penggunaan produk dalam
negeri (P3DN), dan perlindungan yang dilakukan melalui safe guard, serta
bea masuk anti-dumping.
Kinerja ekspor industri pelumas domestik diharapkan semakin besar
setelah PT Shell Indonesia membangun pabrik pelumas di Tanah Air.
Pembangunan pabrik pelumas ini merupakan yang keenam di Asean setelah Malaysia,
Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Pabrik pelumas Shell di
Indonesia yang berlokasi di Marunda, Jakarta Utara itu telah selesai tahap
pembangunannya dan telah mulai beroperasi pada tahun 2015. Pabrik pelumas
tersebut nantinya memiliki kapasitas produksi sebesar 120 ribu ton atau 136 juta
liter per tahun. Kapasitas itu merupakan yang terbesar dibandingkan perusahaan
minyak internasional lain di Indonesia. (Republika
online, 14 Januari 2015).
Para produsen minyak pelumas di Indonesia memprediksikan bahwa
permintaan akan minyak pelumas industri akan terus meningkat seiring dengan
pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia. Pemerintah telah membidik
pembangunan sector infrastruktur dan manufaktur dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dengan target peningkatan kontribusi
terhadap GDP (Produk Domestik Bruto) sebesar 23-40 persen hingga tahun 2025. Pertumbuhan sektor otomotif dan industri dalam beberapa tahun
terakhir yang meningkat, dan telah berhasil menciptakan permintaan yang besar
untuk produk-produk terkait otomotif dan manufaktur di seluruh Asia Tenggara. Namun
Ipsos Consulting mencatat bahwa
peluang pertumbuhan ini juga membawa persaingan yang ketat baik dari
perusahaan-perusahaan minyak internasional maupun nasional. Dalam pemilihan
minyak pelumas, harga tetap merupakan faktor yang penting dan tidak
mengherankan bahwa Pertamina adalah pemimpin pasar. Pertamina mampu
mempertahankan harga yang sama dan pasokan yang stabil di pulau Jawa (iap new,
27 Maret 2015).
Kinerja
Pertamina Lubricants juga cukup menggembirakan. Produsen ini mempunyai total penjualan
sekitar Rp10,5 triliun, dengan omset luar negeri sebesar Rp1,5 triliun atau
sekitar 10 -15 % dari pendapatan. Produk Fastron sendiri pertumbuhannya cukup
bagus, tahun 2013 semester I tumbuh 20 % tahun 2014 semester pertama naik menjadi
22 %. Pasar luar negeri tumbuh lebih besar, tapi dari sisi volume pasar dalam
negeri masih lebih besar. Pertumbuhan di luar produk Fastron itu mencapai 30 %.
(SWA-Online, 26 Agustus 2014). Hal
ini didukung dengan adanya pendistribusian dan pemasaran domestik dan overseas yang
didukung oleh 3 (tiga) Production Unit yang berlokasi di
Jakarta, Cilacap dan Gresik, dan 7 (tujuh) Sales Region.Untuk
penjualan pada periode 2012 – 2013 Pertamina mencatatkan laba di angka Rp 1,5
triliun, kemudian untuk tahun 2013 – 2014 di angka Rp 2,2 triliun. Adapun untuk
prosentase penyumbang labanya, 40% berasal dari pasar luar negeri, sementara
60% berasal dari pasar dalam negeri (SWA-Online,
29 September 2014).
Untuk
Federal Oil, selama transformasi antara Federal oil dengan Astra Honda Motor (AHM)
yang berlangsung antara tahun 2010-2014,
sales volume tumbuh 10% dari pertumbuhan populasi sepeda motor. Produksi Federal
naik dari 312.000 botol per hari, menjadi 384.000 botol per hari atau naik 21%.
Pertumbuhan revenue (revenue growth)
sebesar 14%, 22% growth in GP margin,
serta NPAT growth sebesar 27%. Bentuk
keberhasilan transformasi dari sisi non-financial aspek adalah penghargaan dari
beberapa lembaga seperti TOP Brand Award, WOW Brand Award, Product Quality
Award, hingga Employer of Choice
Award oleh Hay Group (SWA-Online, 28 Januari 2015).
Kinerja
industry ini tentu saja berpengaruh terhadap pertumbuhan lapangan kerja dan
pendapatan masyarakat, yang berdampak pada perekonomian nasional.
3. PENUTUP
Dari analisis SCP yang dilakukan, melalui perhitungan
CR-4 dan HHI sebagaimana diuraikan di atas ternyata bahwa Industri Minyak
Pelumas di Indonesia saat ini dapat diklasifikasikan sebagai pasar oligopoli. Pertamina Lubricants merupakan market
leader yang perilakunya sedikit banyak diantisipasi dengan baik oleh para
pesaingnya.
Strategi pricing dilakukan hampir sama oleh para pesaing
dalam industry, terjadi saling antisipasi satu dengan lainnya. Perbedaan harga
tidak terlalu menyolok dan sebagian besar disebabkan karena perbedaan kualitas
pelumas yang ditawarkan, serta sensitifitas segmentasi konsumen yang dihadapi.
Kinerja industri minyak pelumas berkembang sesuai dengan
perkembangan otomotif dan industry yang semakin maju dengan inovasi teknologi
yang berkesinambungan. Dengan diberlakukannya regulasi yang membuka pasar
persaingan, berbagai macam produk dan merek pelumas berkembang di tanah air
yang semakin menambah pilihan bagi konsumen dan menambah efisiensi kinerja
perusahaan.
Paper ini mengandung banyak kekurangan, terutama dari
segi keterbatasan kualitas data karena keterbatasan waktu melakukan riset.
Sumber-sumber diakses secara on-line dan banyak analisis yang dilakukan hanya berdasarkan
persepsi semata dari sumber-sumber berita yang tersedia dalam situs media.
DAFTAR PUSTAKA
Baye,
Michael R. & Prince, Jeffrey T. 2013. Managerial Economics and Business
Strategy. 8th Ed. McGraw Hill Education. London
BPS,
2013. Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenisnya Tahun 2008-2013.
http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1425
Cases
in Management Indonesia’s Business Challeges oleh: Cases Center Department. FE
UI. Salemba Empat. Jakarta, 2008.https://books.google.co.id/books?id=ySgCXWkm
P8AC&pg=PA191&lpg=PA191&dq
CNN
Indonesia, 2015. Persaingan Oli Ketat, Pertamina Tetap Bidik Pangsa Pasar 50
Persen. http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150828151543-85-75196/persaingan-oli-ketat-pertamina-tetap-bidik-pangsa-50-persen.
Iap
news, 27 Maret 2015. Tahun 2019 Diprediksi Total Penjualan Minyak Pelumas Capai
3 Miliar Liter. http://www.iapnews.co.id/tahun-2019-diprediksi-total-penjualan-minyak-pelumas-capai-3-miliar-liter/
Koran
Kompas, 18 September 2003.
Mahera,
Biondi. 2010. Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerka Industri Minum di
Indonesia Periode 2006-2009. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti,
Jakarta 2010
Pratama,
Lony Duta. 2011. Kajian Optimalisasi Biaya Produksi Dan Persediaan Bahan Baku
pada PT Federal Karyatama. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64863
Republika
online, 14 Januari 2015. Pasokan
Pelumas Domestik Melebihi Kapasitas. http://www.republika.co.id/berita/koran/ekonomi-koran/15/01/14/ni5ng812-pasokan-pelumas-domestik-melebihi-kapasitas.
Sri
Adiningsih, 2006. Ketua Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada.
Persaingan Pada Industri Telepon Selular di Indonesia.
Swa-online, 10 September 2007. Castrol
Luncurkan Pelumas Khusus Skutik. http://swa.co.id/listed-articles/castrol-luncurkan-pelumas-khusus-skutik
Swa-online, 11 Oktober 2011. Pelumas Co-Branding Dari
Shell-Astra Otoparts. http://swa.co.id/business-strategy/marketing/pelumas-co-branding-dari-shell-astra-otoparts
Swa-online, 26 Agustus 2014.Fastron,
Jagoan Oli dari Pertamina Lubricants.http://swa.co.id/ business-strategy/marketing/fastron-jagoan-oli-dari-pertamina-lubricants
Swa-online, 29 September 2014.Pertamina
Lubricants menuju Top 15 Perusahaan Pelumas Kelas Dunia.http://swa.co.id/business-strategy/marketing/pertamina-lubricants-menuju-top-15--perusahaan-pelumas-kelas-dunia.
Widodo,
Kusdi. 2015.Integrasi Ke Hulu Untuk Meningkatkan Daya Saing Bisnis Pelumas PT. Total
Oil Indonesia.S2 Manajemen UGM.Yogyakarta.. http://etd.repository.ugm. ac.id/
index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=
html &buku_id=80544&obyek_id=4
Wordpress.com,
10 Juni 2008. Babak Baru Persaingan Bisnis Pelumas. https://turyanto.
wordpress.com/2008/06/10/babak-baru-persaingan-bisnis-pelumas/
www.castrol.com,
diakses 29 September 2015
www.pertamina.com,
diakses 29 September 2015
http://elibrary.mb.ipb.ac.id/files/disk1/11/mbipb-12312421421421412-mridha-541-10-r29-05-r-i.pdf,
diakses 28 September 2015.
SindoNews.com,
22/09/2014. Shell Kenalkan Teknologi Industri Pelumas Baru. http://autotekno.sindonews.com/read/903883/120/shell-kenalkan-teknologi-industri-pelumas-baru-1411361803,
diakses 26 September 2015
Bagus isi tugas SCP-nya pak. Menginspirasi...
BalasHapus